POLA JABAR – Memasuki periode puncak musim pancaroba pada April 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melakukan langkah proaktif melalui kolaborasi lintas perangkat daerah. Fokus utama saat ini adalah memperkuat sistem mitigasi risiko pohon tumbang guna menjamin keselamatan publik di tengah kondisi cuaca ekstrem yang sering terjadi secara mendadak.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung, Luthfi Firdaus, memberikan perhatian khusus pada transisi musim ini. Berdasarkan analisis data tahunan, pergerakan massa udara pada bulan Maret dan April menciptakan tekanan lingkungan yang tinggi bagi vegetasi perkotaan.

“Setiap tahun, pola di musim pancaroba ini memang memicu angin kencang yang berpotensi menyebabkan pohon tumbang. Karena itu, kami sudah melakukan langkah mitigasi sejak awal, seperti pemangkasan pohon-pohon yang berisiko,” ujarnya.

Saat ini, DPKP mengelola sekitar 65 ribu pohon yang tersebar di 400 ruas jalan protokol dan lingkungan di Kota Bandung. Meskipun sebagian besar pohon tersebut dikategorikan dalam kondisi sehat dan terawat, Luthfi mengingatkan bahwa kecepatan angin yang ekstrem tetap menjadi ancaman serius bagi kekuatan akar pohon.

“Tidak hanya faktor usia atau kesehatan pohon, tetapi juga kondisi perakaran dan tekanan lingkungan. Bahkan pohon sehat pun bisa tumbang saat terjadi cuaca ekstrem,” jelasnya.

Menghadapi tantangan tahun 2026, DPKP telah menambah kapasitas tim lapangan menjadi lima kelompok dengan total 50 personel yang siaga melakukan pemantauan rutin. Selain itu, penguatan basis data digital pohon dilakukan untuk mempermudah identifikasi pohon-pohon yang memerlukan penanganan khusus secara cepat dan akurat.

Dari sisi kesiapsiagaan bencana, BPBD Kota Bandung mencatat adanya lonjakan signifikan pada kejadian alam akibat anomali cuaca. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD, Amires Pahala, menjelaskan bahwa transisi menuju musim kemarau di tahun 2026 ini membawa karakteristik cuaca yang cukup agresif.

“Peralihan dari musim hujan ke kemarau menyebabkan anomali cuaca meningkat. Ini yang memicu hujan deras disertai angin kencang,” ujarnya.

Data statistik menunjukkan bahwa pada awal April, sempat terjadi lebih dari 100 peristiwa kebencanaan dalam satu hari. Kondisi ini membuat Pemkot Bandung menaikkan status kewaspadaan.