POLA JABAR – Ruang publik kembali memanas akibat pernyataan seorang pengamat yang dinilai menyentuh isu sensitif terkait upaya menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto.

Menanggapi hal tersebut, Anggota DPR RI Firman Soebagyo melontarkan kritik tajam. Ia menganggap narasi yang dilemparkan ke tengah masyarakat tersebut sangat berpotensi memicu kontroversi serta kegaduhan yang tidak perlu di tingkat nasional.

Firman menekankan bahwa seorang pengamat, terlebih yang memiliki reputasi senior di lembaga survei, memegang tanggung jawab moral dan sosial yang besar.

Menurutnya, pernyataan yang cenderung provokatif dapat disalahtafsirkan sebagai ajakan makar, yang tentu saja mencederai nilai-desa demokrasi dan stabilitas negara.

Dalam sebuah keterangan tertulis yang diterima di Jakarta pada Minggu, 5 April 2026, politisi senior ini memberikan peringatan tegas mengenai pentingnya kehati-hatian dalam berkomunikasi secara massa.

“Harus berhati-hati dalam berbicara di hadapan publik, apalagi sebagai tokoh lembaga survei yang sudah sangat senior,” ujar Firman.

Meskipun pengamat yang bersangkutan telah mengklarifikasi bahwa videonya dipotong sehingga menimbulkan persepsi keliru dan membantah adanya niat inkonstitusional, Firman menilai dampak dari pernyataan tersebut sudah terlanjur menimbulkan spekulasi di masyarakat.

Sebagai anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Firman Soebagyo juga meluruskan pemahaman publik mengenai wacana pemakzulan.

Ia mengingatkan bahwa di Indonesia, proses mengganti presiden tidak bisa dilakukan atas dasar opini atau desakan sepihak, melainkan harus melewati jalur hukum yang sangat ketat dan panjang sebagaimana diatur dalam UUD 1945.