POLA JABAR – Istilah "super flu" belakangan menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat seiring dengan masuknya varian baru virus influenza ke Indonesia.
Secara medis, virus ini dikenal dengan nama resmi Influenza A (H3N2) J.2.4.1 atau subclade K. Label "super" yang melekat pada varian ini merujuk pada kemampuannya yang disinyalir memiliki tingkat transmisi atau penularan jauh lebih cepat dan lebih sulit dideteksi tanpa melalui uji laboratorium yang spesifik.
Meskipun terdengar mengkhawatirkan, gejala yang ditimbulkan oleh infeksi subclade K ini sebenarnya serupa dengan influenza pada umumnya.
Para penderita biasanya akan mengalami demam, kelelahan hebat, nyeri badan, menggigil, hingga gangguan pernapasan seperti hidung tersumbat dan sakit tenggorokan. Dalam beberapa kasus, gejala juga disertai dengan gangguan pencernaan seperti muntah dan diare.
Pakar kesehatan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Nastiti Kaswandani, mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan influenza dengan menganggapnya sekadar selesma biasa.
Influenza tipe A dan B memiliki risiko mortalitas yang signifikan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, gagal ginjal, hingga gagal hati.
Hingga saat ini, belum ada data medis yang menunjukkan bahwa "super flu" memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan jenis influenza lainnya.
Gejala yang muncul masih dapat ditekan melalui imunisasi atau vaksinasi influenza yang sudah tersedia saat ini.
Namun, kecepatan penularannya yang diprediksi lebih luas tetap menjadi alarm bagi masyarakat untuk tetap waspada, terutama dalam melindungi anggota keluarga yang masuk dalam kategori kelompok rentan.***