POLA JABAR - Bagi banyak orang, mandi air hangat setelah hari yang panjang adalah bentuk "self-reward" yang paling sederhana. Efek relaksasinya memang tidak perlu diragukan lagi. Namun, pernahkah Anda merasa kulit justru terasa gatal, kaku, atau bersisik setelah keluar dari kamar mandi?

Ternyata, ada batasan tipis antara "air hangat yang menenangkan" dan "air panas yang merusak". Para ahli kulit dari American Academy of Dermatology (AAD) sering kali menekankan pentingnya mengatur suhu air demi menjaga kesehatan skin barrier.

Mengapa Suhu Air Sangat Berpengaruh?

Kulit manusia memiliki lapisan minyak alami yang disebut sebum. Minyak ini berfungsi sebagai pelindung agar kelembaban tidak menguap dan bakteri tidak mudah masuk. Masalah muncul ketika kita menggunakan air yang terlalu panas.

Menurut penjelasan resmi pada laman American Academy of Dermatology, air panas dapat meluruhkan minyak alami tersebut jauh lebih cepat daripada air suam-suam kuku. Akibatnya, kulit kehilangan perlindungan utamanya. Jika kebiasaan ini diteruskan, kulit akan mengalami dehidrasi kronis yang memicu kemerahan hingga iritasi.

Aturan "Suam-Suam Kuku"

Lantas, apakah kita tidak boleh menggunakan air hangat sama sekali? Jawabannya tentu boleh, namun dengan syarat. American Academy of Dermatology menyarankan penggunaan air suam-suam kuku (lukewarm water) alih-alih air panas yang mengeluarkan uap pekat.

Suhu yang ideal adalah suhu yang tidak membuat kulit Anda berubah menjadi kemerahan. Jika kulit Anda tampak merah setelah mandi, itu adalah sinyal bahwa air yang Anda gunakan terlalu panas dan telah mengganggu sirkulasi darah di permukaan kulit secara berlebihan.

Durasi Juga Menentukan