POLA JABAR - Pernahkah Anda berdiri di depan dispenser dan merasa ragu apakah harus menekan tombol merah atau biru saat sedang menjalani program penurunan berat badan? Perdebatan mengenai suhu air minum memang sering menjadi topik hangat di kalangan penggiat kebugaran.

Banyak yang meyakini bahwa air es dapat membakar lemak seketika, sementara yang lain bersumpah bahwa air hangat adalah kunci utama melancarkan pencernaan.

Namun, jika kita merujuk pada tinjauan medis seperti yang sering dibahas oleh institusi kesehatan ternama seperti Mayo Clinic, kebenarannya ternyata lebih kompleks dan menarik daripada sekadar mitos belaka.

Pada dasarnya, tubuh manusia memiliki mekanisme regulasi suhu yang sangat canggih. Ketika Anda meminum air dingin, tubuh harus bekerja ekstra untuk menyeimbangkan suhu air tersebut dengan suhu internal tubuh yang konstan. 

Proses ini dikenal sebagai termogenesis, di mana tubuh membakar sedikit kalori tambahan untuk menghasilkan panas. Meskipun pembakaran kalori dari proses ini tergolong kecil dan tidak secara drastis mengubah angka di timbangan dalam semalam, konsumsi air dingin secara rutin dapat memberikan dorongan metabolisme yang konsisten bagi mereka yang disiplin.

Di sisi lain, air hangat menawarkan manfaat yang berbeda namun tak kalah krusial bagi diet. Mengonsumsi air hangat, terutama sebelum makan, dapat memberikan efek menenangkan pada sistem pencernaan dan membantu memecah partikel makanan lebih efektif.

Air hangat sering kali memberikan rasa kenyang yang lebih lama dibandingkan air dingin, yang secara tidak langsung membantu seseorang mengontrol porsi makan dan mengurangi keinginan untuk camilan berlebih.

Selain itu, suhu yang lebih tinggi dapat membantu sirkulasi darah tetap lancar, yang mendukung pengangkutan nutrisi ke seluruh sel tubuh selama proses detoksifikasi alami.

Kunci utama dari efektivitas kedua suhu air ini sebenarnya bukan pada derajat panas atau dinginnya, melainkan pada hidrasi itu sendiri.