POLA JABAR - Banyak orang secara naluriah mencari es krim saat sedang merasa sedih, lelah, atau sekadar ingin merayakan keberhasilan kecil. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan atau kebiasaan semata. Secara psikologis dan biologis, terdapat kaitan erat antara konsumsi hidangan penutup yang dingin dan manis ini dengan peningkatan suasana hati (mood).

Melansir data dari perspektif kesehatan mental seperti yang sering dibahas dalam kanal kesehatan Healthline, hubungan antara makanan dan emosi melibatkan proses kimiawi yang kompleks di dalam otak manusia.

Aktivasi Pusat Kesenangan di Otak

Saat lidah menyentuh lembutnya es krim, otak akan segera merespons. Kandungan gula dan lemak dalam es krim memicu pelepasan dopamin, yaitu neurotransmiter yang bertanggung jawab atas perasaan senang dan penghargaan. Inilah alasan mengapa suapan pertama seringkali memberikan efek "instan" dalam meredakan ketegangan saraf.

Secara evolusioner, otak manusia memang dirancang untuk menyukai makanan padat energi. Ketika kita mengonsumsi campuran lemak dan gula yang pas seperti yang ditemukan dalam es krim pusat penghargaan di otak (orbitofrontal cortex) akan menyala, memberikan sinyal kepuasan yang mendalam.

Kekuatan Memori dan Nostalgia

Selain faktor kimiawi, aspek psikologis yang paling kuat dari es krim adalah nostalgia. Bagi mayoritas orang, es krim identik dengan kenangan masa kecil yang bahagia, hadiah dari orang tua, atau momen liburan yang menyenangkan.

Dalam psikologi kesehatan mental, ini disebut sebagai pengkondisian emosional. Aroma dan rasa tertentu dapat memicu memori otobiografis yang membawa kita kembali ke masa-masa yang lebih sederhana dan aman. Dengan demikian, makan es krim bukan hanya soal rasa, melainkan upaya bawah sadar untuk menjangkau kembali perasaan tenang tersebut.

Keseimbangan antara Kebahagiaan dan Kesehatan