POLA JABAR - Selama satu dekade terakhir, rokok elektrik atau vape telah dipasarkan sebagai alternatif yang diklaim "lebih bersih" dibandingkan rokok konvensional. Namun, seiring dengan meningkatnya populasi pengguna, para ilmuwan mulai menemukan bukti-bukti baru yang mengkhawatirkan mengenai dampak uap tersebut terhadap sistem pertahanan tubuh manusia. Salah satu tinjauan medis yang paling disorot berasal dari jurnal Autoimmunity Reviews, yang mengungkapkan bahwa paparan zat dalam vape dapat menjadi pemicu munculnya respon autoimun yang berbahaya.

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya melindungi dari virus dan bakteri, justru mengalami disorientasi dan menyerang sel-sel sehat milik tubuh sendiri. Munculnya fenomena ini pada pengguna vape berkaitan erat dengan interaksi kompleks antara bahan kimia sintetis dan sel imun di dalam paru-paru.

Gangguan Homeostasis Imun Akibat Aerosol

Berdasarkan studi yang diulas dalam Autoimmunity Reviews, cairan vape mengandung berbagai zat aditif yang ketika dipanaskan akan membentuk partikel ultra-halus dan radikal bebas. Ketika partikel ini terhirup secara terus-menerus, mereka menyebabkan stres oksidatif yang signifikan pada jaringan paru-paru. Kondisi ini memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi, yaitu protein sinyal yang memerintahkan sistem imun untuk terus melakukan peradangan.

Peradangan kronis yang tidak terkendali ini merupakan "pintu gerbang" bagi penyakit autoimun. Paparan aerosol vape diketahui dapat menginduksi modifikasi protein dalam tubuh melalui proses yang disebut sitrunilasi. Protein yang telah termodifikasi ini kemudian dianggap sebagai benda asing oleh sistem imun, sehingga tubuh mulai memproduksi antibodi untuk menyerangnya. Mekanisme inilah yang sering dikaitkan dengan risiko penyakit seperti Rheumatoid Arthritis (rematik) dan Lupus.

Kandungan Kimia dan Modifikasi Genetik

Selain nikotin, cairan vape sering kali mengandung logam berat seperti nikel dan kromium, serta senyawa organik volatil seperti akrolein. Riset menunjukkan bahwa zat-zat ini tidak hanya merusak sel secara langsung, tetapi juga dapat memengaruhi ekspresi gen yang mengatur respon imun.

Penggunaan vape dalam jangka panjang ditemukan dapat mengganggu fungsi sel makrofag dan sel T, yang merupakan komponen utama dalam menjaga keseimbangan imun. Ketika sel-sel ini tidak berfungsi dengan normal, kemampuan tubuh untuk membedakan antara "kawan" dan "lawan" menjadi tumpul. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa pengguna vape melaporkan gejala yang menyerupai gangguan imun, seperti kelelahan ekstrem, nyeri sendi, hingga ruam kulit yang tidak kunjung sembuh.

Hubungan dengan Kesehatan Pernapasan dan Sistemik