POLA JABAR - Dalam satu dekade terakhir, rokok elektrik atau vape kerap diposisikan sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Namun, seiring dengan meningkatnya populasi pengguna secara global, bukti-bukti klinis mengenai dampak buruknya terhadap organ vital mulai bermunculan. Salah satu perhatian utama para ahli medis saat ini adalah kaitan antara kebiasaan vaping dengan risiko penyakit jantung koroner sebuah kondisi di mana pembuluh darah utama yang menyuplai jantung mengalami kerusakan atau penyempitan.
Laporan yang diterbitkan dalam Journal of the American College of Cardiology (JACC) memberikan peringatan keras bahwa uap yang dihasilkan oleh perangkat vape bukanlah sekadar uap air biasa yang tidak berbahaya. Di dalamnya terkandung partikel-partikel mikro dan zat kimia yang dapat memicu gangguan serius pada sistem kardiovaskular.
Bagaimana Vape Merusak Jantung Anda?
Penyakit jantung koroner biasanya bermula dari kerusakan pada lapisan dalam pembuluh darah (endotel). Riset dalam JACC menunjukkan bahwa paparan aerosol dari vape secara signifikan dapat menyebabkan disfungsi endotel. Ketika lapisan ini tidak berfungsi dengan baik, arteri menjadi lebih kaku dan rentan terhadap penumpukan plak.
Selain itu, kandungan nikotin dalam cairan vape—yang sering kali hadir dalam konsentrasi tinggi—memiliki efek stimulan yang meningkatkan detak jantung dan tekanan darah secara mendadak. Tekanan yang terus-menerus ini memaksa jantung bekerja lebih keras dari kapasitas normalnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini mempercepat proses aterosklerosis atau pengerasan pembuluh darah yang menjadi cikal bakal penyakit jantung koroner dan serangan jantung.
Bahan Kimia dan Stres Oksidatif
Bukan hanya nikotin yang menjadi persoalan. Cairan vape mengandung berbagai zat aditif, pelarut seperti propilen glikol, dan bahan perasa sintetis. Ketika zat-zat ini dipanaskan pada suhu tinggi melalui koil perangkat, mereka bertransformasi menjadi senyawa beracun seperti formaldehida dan akrolein.
Senyawa-senyawa ini memicu reaksi stres oksidatif di dalam tubuh. Stres oksidatif inilah yang menyebabkan peradangan kronis pada pembuluh darah. Peradangan tersebut membuat darah lebih mudah membeku, yang jika terjadi di arteri koroner, dapat menyumbat aliran darah ke otot jantung secara tiba-tiba. Temuan dalam jurnal JACC menegaskan bahwa pengguna vape memiliki profil risiko kardiovaskular yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak merokok sama sekali.