POLA JABAR - Selama satu dekade terakhir, rokok elektrik atau vape dipasarkan secara masif sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional. Namun, seiring berkembangnya penelitian medis, narasi tersebut mulai terpatahkan oleh fakta-fakta kesehatan yang mengkhawatirkan. Salah satu temuan paling krusial yang dipublikasikan dalam jurnal Stroke, bagian dari publikasi American Heart Association, menunjukkan adanya hubungan signifikan antara penggunaan vape dengan peningkatan risiko stroke pada usia yang lebih dini.

Stroke, yang terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak, kini tidak lagi hanya menjadi ancaman bagi lansia atau perokok tembakau. Pengguna rokok elektrik kini masuk dalam daftar kelompok berisiko tinggi akibat paparan zat kimia yang memicu kerusakan vaskular secara sistemik.

Mekanisme Kerusakan Pembuluh Darah

Riset dalam jurnal Stroke mengungkapkan bahwa aerosol yang dihasilkan oleh vape mengandung partikel ultra-halus dan radikal bebas yang dapat menembus sistem sirkulasi darah. Ketika zat-zat kimia sintetis ini masuk ke dalam aliran darah, mereka memicu kondisi yang disebut disfungsi endotel. Endotel adalah lapisan tipis di dalam pembuluh darah yang berfungsi menjaga kelenturan dan mengatur tekanan darah.

Disfungsi endotel menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku dan lebih mudah mengalami peradangan. Kondisi ini memicu pembentukan plak atau penggumpalan darah lebih cepat dari biasanya. Jika gumpalan darah ini menyumbat arteri yang menuju ke otak, maka terjadilah stroke iskemik. Peneliti menemukan bahwa pengguna vape memiliki risiko stroke 15% lebih tinggi dibandingkan dengan non-pengguna, bahkan setelah menyesuaikan faktor risiko lainnya seperti gaya hidup.

Nikotin dan Tekanan Darah Tinggi

Meskipun cairan vape seringkali tidak mengandung tar seperti rokok biasa, kandungan nikotin di dalamnya tetap menjadi ancaman utama. Nikotin adalah zat stimulan yang secara instan dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah yang terjadi secara kronis (hipertensi) merupakan faktor risiko tunggal terbesar untuk semua jenis stroke, baik stroke sumbatan maupun stroke perdarahan (hemoragik).

Selain nikotin, perasa tambahan dalam cairan vape juga ditemukan memiliki sifat toksik terhadap sel-sel pembuluh darah. Ketika dipanaskan pada suhu tinggi, zat-zat ini berubah menjadi senyawa karbonil yang dapat merusak integritas penghalang darah-otak (blood-brain barrier), yang seharusnya melindungi otak dari zat berbahaya.

Risiko Stroke pada Usia Muda