POLA JABAR - Penyu laut adalah navigator ulung lautan, melakukan perjalanan migrasi ribuan kilometer melintasi samudra luas untuk kembali ke pantai tempat mereka menetas atau mencari zona makan yang subur. Kemampuan luar biasa ini bergantung pada indra keenam mereka: kemampuan untuk merasakan dan memetakan medan magnet Bumi.
Penyu menggunakan variasi halus pada sudut dan intensitas medan magnet Bumi seperti garis lintang dan bujur alami sebagai peta dan kompas global mereka. Namun, penelitian ilmiah, termasuk studi yang diterbitkan di Scientific Reports Oceanography, mengungkapkan bahwa sistem navigasi natural GPS ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, dan inilah sumber utama mengapa penyu sering tersesat.
Salah satu penyebab utama tersesatnya penyu adalah fluktuasi alami dan pergeseran perlahan pada medan magnet Bumi itu sendiri. Ketika garis-garis magnetik ini sedikit bergeser seiring waktu, informasi yang diandalkan penyu untuk menentukan posisi mereka menjadi tidak akurat.
Penyu muda (juvenile) sangat rentan karena mereka masih dalam tahap "belajar" memetakan koordinat, dan pergeseran kecil pada medan magnet saat mereka migrasi untuk pertama kalinya dapat membuat mereka salah menentukan tujuan, mengarahkannya ke perairan yang tidak optimal untuk mencari makan atau menghindari predator.
Selain perubahan alami pada medan magnet Bumi, salah satu faktor kritis lain yang diidentifikasi oleh para ilmuwan adalah gangguan oleh arus laut yang tidak terduga dan perubahan iklim global. Penyu muda, khususnya penyu tempayan (Loggerhead sea turtles), sering menghabiskan tahun-tahun pertama kehidupan mereka di perairan terbuka dan dibawa oleh sistem arus laut besar, seperti Arus Teluk (Gulf Stream). Mereka menggunakan arus ini sebagai "ban berjalan" untuk melakukan migrasi awal.
Namun, ketika suhu laut memanas atau pola angin berubah, intensitas dan arah arus laut dapat berubah secara drastis dari yang seharusnya. Jika penyu terlalu lama berada di arus yang salah atau terbawa ke zona yang tidak ada informasi magnetiknya yang jelas, mereka akan kehilangan petunjuk navigasi yang krusial.
Hilangnya petunjuk ini dapat menyebabkan penyu berakhir di perairan yang terlalu dingin, kekurangan sumber makanan, atau terperangkap di wilayah dengan lalu lintas kapal yang padat. Dalam kasus ini, meskipun kompas magnetik internal mereka berfungsi, lingkungan fisik (arus laut) telah memindahkan mereka terlalu jauh dari jalur yang diprogram secara genetik.
Aspek krusial ketiga yang meningkatkan risiko penyu tersesat adalah polusi cahaya buatan manusia (light pollution) di sepanjang garis pantai. Meskipun navigasi jarak jauh didominasi oleh medan magnet, penyu betina dewasa kembali ke pantai bersarang mereka dengan menggunakan kombinasi medan magnet dan isyarat visual dan penciuman saat mereka mendekati daratan.
Ketika penyu muda menetas, mereka secara insting bergerak menuju cahaya alami (cahaya bulan atau bintang) yang memantul dari permukaan laut, menjauhi kegelapan kontur daratan.