POLA JABAR - Masalah gizi buruk masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan anak-anak di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satu yang paling krusial namun sering terabaikan adalah kekurangan vitamin A (KVA). Berdasarkan laporan dari UNICEF, kekurangan vitamin A tetap menjadi penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah pada anak-anak serta meningkatkan risiko kematian akibat infeksi biasa.
Vitamin A bukan sekadar nutrisi pendukung; ia adalah fondasi bagi sistem kekebalan tubuh dan perkembangan sel. Ketika seorang anak tidak mendapatkan asupan yang cukup, dampak yang ditimbulkan bisa bersifat permanen dan merusak masa depan mereka.
1. Kerusakan Penglihatan dan Xerophthalmia
Dampak yang paling dikenal dari kekurangan vitamin A adalah gangguan pada indra penglihatan. Tahap awal biasanya ditandai dengan "rabun senja" atau ketidakmampuan anak untuk melihat dalam cahaya redup. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan berkembang menjadi Xerophthalmia.
Menurut data medis, Xerophthalmia menyebabkan kekeringan pada selaput lendir mata (konjungtiva) dan kornea. Dalam tingkat yang parah, kornea bisa melunak dan hancur, yang berujung pada kebutaan total. UNICEF mencatat bahwa ratusan ribu anak kehilangan penglihatan setiap tahunnya hanya karena masalah kekurangan satu jenis vitamin ini.
2. Melemahnya Benteng Pertahanan Tubuh
Seringkali, dampak yang paling mematikan dari kekurangan vitamin A justru tidak terlihat secara langsung pada mata. Vitamin A berperan vital dalam menjaga integritas jaringan epitel, yaitu lapisan kulit dan selaput lendir yang melapisi organ tubuh.
Tanpa vitamin A yang cukup, "benteng" ini akan rapuh. Akibatnya, anak menjadi sangat rentan terhadap infeksi. UNICEF menekankan bahwa anak dengan defisiensi vitamin A memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk meninggal akibat penyakit umum seperti:
Campak: Komplikasi campak pada anak yang kurang vitamin A jauh lebih berat dan sering berakibat fatal.