POLA JABAR - Penyu laut, makhluk purba yang melintasi samudra, kini menghadapi krisis eksistensial yang sunyi, terjadi tepat di bawah pasir tempat mereka menetaskan telur. Sumber utama ancaman ini adalah kenaikan suhu permukaan laut global, sebuah dampak langsung dari perubahan iklim. Ketika suhu lautan meningkat, suhu pantai tempat penyu bersarang ikut melonjak. Masalahnya, penyu memiliki karakteristik unik yang disebut Penentuan Jenis Kelamin Tergantung Suhu (Temperature-Dependent Sex Determination - TSD). Ini berarti suhu inkubasi telur, bukan genetik, yang menentukan apakah anakan penyu akan berjenis kelamin jantan atau betina.
Suhu yang lebih dingin cenderung menghasilkan penyu jantan, sementara suhu yang lebih hangat terutama di atas ambang kritis (sekitar 29,1 derajat C hingga derajat C tergantung spesies) akan menghasilkan penyu betina.
Ketika suhu pantai terus memanas akibat suhu laut yang meninggi, yang terjadi adalah fenomena feminisasi, di mana hampir 100% anakan yang menetas adalah betina, menyebabkan ketidakseimbangan rasio jenis kelamin yang parah dalam populasi penyu.
Dampak dari feminisasi ini jauh lebih serius daripada sekadar pergeseran jumlah, karena ia secara fundamental mengancam kelangsungan hidup spesies penyu laut dalam jangka panjang. Bayangkan, jika sebagian besar anakan yang menetas adalah betina, maka jumlah penyu jantan yang sangat dibutuhkan untuk reproduksi dan meneruskan generasi akan berkurang drastis di masa depan.
Beberapa studi, termasuk yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Oceanography, telah menunjukkan adanya sarang penyu di beberapa wilayah seperti Great Barrier Reef, Australia, yang hampir tidak menghasilkan penyu jantan sama sekali selama beberapa dekade terakhir.
Kekurangan Jantan (Male Shortage) ini menciptakan "bottleneck" genetik, di mana keragaman genetik menurun dan kemampuan populasi untuk pulih dari bencana alam atau penyakit menjadi sangat terbatas. Jika tren pemanasan ini terus berlanjut tanpa intervensi, ada risiko nyata bahwa populasi penyu dewasa saat ini akan menjadi generasi terakhir yang mampu bereproduksi secara memadai, menempatkan spesies penyu pada jalur menuju kepunahan fungsional.
Selain mengubah jenis kelamin, suhu inkubasi yang terlalu tinggi juga memiliki dampak mematikan yang lebih langsung pada telur itu sendiri. Ketika suhu sarang melampaui batas toleransi maksimum, telur penyu berisiko mengalami mortalitas tinggi mereka bisa mati karena stres panas sebelum sempat menetas, atau anakan yang berhasil menetas lahir dalam kondisi lemah dan cacat, mengurangi peluang mereka untuk bertahan hidup di lautan.
Suhu ekstrem ini juga dapat mempersingkat masa inkubasi. Meskipun kedengarannya cepat, penetasan yang terlalu cepat sering kali menghasilkan anakan yang lebih kecil dan kurang berkembang, sehingga kemampuan mereka untuk berenang dan mencari makan setelah mencapai laut menjadi terganggu. Ini adalah siklus berbahaya: suhu laut yang meningkat memanaskan pasir, menyebabkan anakan betina lahir lebih banyak, dan pada tingkat ekstrem, membunuh telur secara massal atau menghasilkan individu yang lemah, menggerogoti populasi penyu dari pangkalnya.
Upaya konservasi kini berfokus pada mitigasi dampak ini, termasuk menyediakan peneduh buatan di lokasi sarang, atau bahkan memindahkan sarang ke daerah yang lebih dingin. Namun, solusi jangka panjang terletak pada mengatasi akar masalahnya: perubahan iklim.