POLA JABAR - Selama satu dekade terakhir, rokok elektrik atau vape sering kali dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Toxicology Letters mulai mengupas tabir gelap di balik klaim tersebut. Data ilmiah menunjukkan bahwa uap yang dihasilkan dari perangkat ini bukanlah sekadar uap air biasa, melainkan koktail kimia yang mampu merusak struktur dasar kehidupan kita: sel-sel tubuh.

Penelitian di bidang toksikologi ini memberikan peringatan keras bahwa paparan jangka panjang dapat memicu perubahan patologis pada tingkat seluler yang sebelumnya tidak disadari oleh para pengguna.

Stres Oksidatif: Serangan pada Mitokondria

Salah satu temuan paling signifikan dalam laporan Toxicology Letters adalah munculnya stres oksidatif yang ekstrem pada sel-sel paru-paru. Saat uap rokok elektronik dihirup, partikel ultra-mikro masuk ke dalam alveoli dan memicu produksi Reactive Oxygen Species (ROS) secara berlebihan.

ROS yang tidak terkendali ini menyerang mitokondria, yang dikenal sebagai "pembangkit tenaga" sel. Ketika mitokondria rusak, sel kehilangan kemampuannya untuk memproduksi energi dan memperbaiki diri. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan kematian sel terprogram atau apoptosis, yang menjadi cikal bakal berbagai penyakit kronis pada saluran pernapasan.

Kerusakan DNA dan Gangguan Siklus Sel

Tidak berhenti pada permukaan sel, komponen kimia dalam cairan vape (liquid) seperti formaldehida, akrolein, dan logam berat yang terlepas dari koil pemanas terbukti mampu menembus inti sel. Jurnal Toxicology Letters menyoroti bahwa paparan ini dapat menyebabkan fragmentasi DNA.

Kerusakan pada rantai DNA ini sangat berbahaya karena jika mekanisme perbaikan seluler gagal, sel yang rusak akan terus membelah secara abnormal. Gangguan pada siklus sel ini sering kali dikaitkan dengan risiko transformasi sel menjadi ganas atau karsinogenik. Meskipun dampaknya tidak terlihat secara instan seperti luka bakar, kerusakan mikroskopis ini bersifat akumulatif.

Peradangan Sistemik dan Respon Imun yang Lemah