POLA JABAR - Hubungan antara anjing dan musik jauh melampaui sekadar kebisingan latar belakang; studi ilmiah menunjukkan bahwa anjing memiliki respons emosional dan fisiologis yang nyata terhadap irama dan frekuensi suara. Pendengaran anjing jauh lebih sensitif dibandingkan manusia, mampu menangkap rentang frekuensi yang jauh lebih tinggi sebuah adaptasi evolusioner yang dulunya sangat penting untuk berburu dan mendeteksi bahaya.
Oleh karena itu, suara yang bagi kita terdengar biasa saja, bagi anjing bisa jadi terlalu keras, tajam, atau mengganggu. Para peneliti telah lama berusaha mengidentifikasi jenis musik apa yang paling menenangkan dan jenis apa yang paling memicu kecemasan pada sahabat berkaki empat ini.
Penemuan menunjukkan bahwa, seperti halnya manusia, preferensi musik pada anjing sangat mempengaruhi kondisi mental dan tingkat stres mereka, menjadikannya alat terapi yang potensial dalam lingkungan seperti penampungan hewan atau rumah.
Penelitian mendalam yang mengukur detak jantung, pola pernapasan, dan tingkat hormon stres pada anjing ketika mereka mendengarkan berbagai genre musik memberikan wawasan yang menarik.
Secara umum, musik yang dicirikan oleh tempo lambat dan frekuensi rendah terbukti paling efektif dalam mempromosikan relaksasi. Sebagai contoh, studi menunjukkan bahwa musik klasik cenderung membuat anjing menjadi lebih tenang, dengan banyak anjing terlihat berbaring, beristirahat, atau bahkan tertidur.
Respon fisiologis ini menunjukkan bahwa irama yang teratur dan lembut membantu menurunkan denyut jantung anjing dan mengurangi kadar kortisol (hormon stres). Menariknya, musik yang memiliki tempo sangat cepat, volume tinggi, dan variasi frekuensi yang ekstrem seperti heavy metal seringkali menghasilkan respons kebalikan, ditandai dengan peningkatan kegelisahan, vokalisasi (menggonggong atau merengek), dan peningkatan detak jantung.
Meskipun musik klasik adalah penenang yang teruji, penelitian lebih lanjut seperti yang dilaporkan oleh BBC Future menunjukkan bahwa musik reggae dan soft rock mungkin memiliki dampak yang sama baiknya, bahkan terkadang lebih unggul, dalam menjaga ketenangan anjing di lingkungan penampungan.
Para ilmuwan berhipotesis bahwa musik reggae dengan iramanya yang santai dan bassline yang lembut, serta soft rock dengan melodi yang tidak terlalu bervariasi dan tempo yang stabil, menciptakan suasana yang menenangkan tanpa memicu sistem alarm pendengaran anjing.
Hal ini memperkuat temuan bahwa bukan genre musik itu sendiri yang menjadi penentu, melainkan karakteristik akustik dari musik tersebut: kecepatan irama, volume, dan kompleksitas frekuensi yang mempengaruhi respons emosional anjing. Kesimpulan utamanya adalah bahwa suara yang stabil, mudah diprediksi, dan tidak mengancam adalah kunci untuk menciptakan lingkungan pendengaran yang menenangkan bagi anjing.