POLA JABAR - Menghabiskan waktu dengan berendam di air panas, baik di bak mandi (bathtub), sauna, maupun kolam air panas alami, telah lama dikenal sebagai sarana relaksasi yang efektif. Namun, bagi kesehatan jantung, paparan suhu panas memiliki efek fisiologis yang kompleks.
Berdasarkan penjelasan dan studi yang sering dirujuk oleh American Heart Association (AHA), terdapat manfaat sekaligus peringatan penting yang harus dipahami oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular.
Respons Jantung Terhadap Suhu Panas
Ketika tubuh terpapar air panas, sistem termoregulasi manusia bekerja ekstra untuk mendinginkan suhu inti tubuh. Proses utama yang terjadi adalah vasodilatasi, yaitu pelebaran pembuluh darah di dekat permukaan kulit. Fenomena ini menyebabkan darah mengalir lebih banyak ke kulit guna melepaskan panas ke lingkungan.
Sebagai konsekuensinya, tekanan darah cenderung menurun. Untuk mengkompensasi penurunan tekanan darah tersebut, jantung harus berdetak lebih cepat dan lebih kuat guna menjaga sirkulasi oksigen ke seluruh organ vital.
Bagi individu dengan jantung sehat, proses ini mirip dengan latihan kardio ringan. Namun, bagi penderita gagal jantung atau penyakit arteri koroner, beban kerja tambahan ini bisa menjadi risiko yang serius.
Manfaat Potensial bagi Kesehatan Jangka Panjang
Beberapa penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal terafiliasi dengan AHA menunjukkan bahwa kebiasaan berendam air panas secara teratur dapat memberikan efek protektif bagi jantung. Suhu panas yang terkontrol dapat meningkatkan fungsi endotel, yakni lapisan tipis di dalam pembuluh darah yang mengatur kelenturan dan aliran darah.
Peningkatan elastisitas pembuluh darah ini dalam jangka panjang dapat membantu menurunkan risiko hipertensi kronis. Selain itu, efek relaksasi yang dihasilkan mampu menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol, yang secara tidak langsung memberikan perlindungan terhadap kesehatan jantung secara menyeluruh.