POLA JABAR – Setelah puas menyantap hidangan Lebaran yang kaya akan santan dan lemak, banyak orang bergegas mencari segelas teh tawar hangat. Kepercayaan populer menyebutkan bahwa teh hangat mampu "melunturkan" atau menetralisir lemak dan kolesterol yang baru saja masuk ke tubuh.

Namun, benarkah teh memiliki kekuatan ajaib secepat itu? Mari kita simak penjelasan medis mengenai kandungan teh dan reaksinya terhadap lemak di dalam sistem pencernaan kita.

Kandungan Katekin dan Polifenol

Secara ilmiah, teh (terutama teh hijau dan teh hitam) memang mengandung senyawa antioksidan kuat yang disebut katekin dan polifenol. Penelitian menunjukkan bahwa senyawa ini dapat membantu menghambat penyerapan lemak di usus dan membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam jangka panjang.

Namun, kata kuncinya adalah jangka panjang. Minum segelas teh setelah makan satu piring rendang tidak akan secara instan "menghapus" lemak yang baru saja Anda telan. Lemak tidak langsung larut begitu saja hanya karena suhu air yang hangat atau kandungan teh tersebut.

Efek Terhadap Penyerapan Zat Besi

Ada hal penting yang sering terlupakan. Teh mengandung zat yang disebut tanin. Secara medis, tanin dapat mengikat zat besi dari makanan (terutama dari daging merah) dan menghambat penyerapannya oleh tubuh. Jadi, jika Anda langsung minum teh setelah makan besar, Anda justru berisiko kekurangan asupan zat besi meskipun perut terasa kenyang.

Benarkah Air Hangat Membantu?

Suhu air yang hangat memang dapat membantu melancarkan sistem pencernaan dan membuat perut terasa lebih nyaman setelah makan makanan berat (begah). Namun, air hangat tidak memiliki kemampuan kimiawi untuk memecah molekul kolesterol yang sudah masuk ke aliran darah.