POLA JABAR - Selama ini, kita mengenal spageti sebagai identitas kuliner paling murni dari Italia. Bayangkan sepiring pasta dengan saus tomat merah merona dan taburan keju parmesan; pikiran kita pasti langsung tertuju pada jalanan berbatu di Roma atau Napoli.
Namun, sebuah pertanyaan besar sering kali muncul dalam diskusi sejarah kuliner: Benarkah spageti lahir di Italia, atau ia hanyalah "imigran" yang sukses berganti kewarganegaraan?
Mitos Marco Polo dan Tiongkok
Salah satu cerita paling populer yang kita dengar adalah bahwa penjelajah legendaris Marco Polo membawa mi dari Tiongkok ke Italia pada akhir abad ke-13.
Cerita ini menyebutkan bahwa Polo menemukan penduduk Tiongkok memakan helaian panjang tepung dan memutuskan untuk memperkenalkannya ke Venesia.
Namun, para sejarawan kuliner modern sepakat bahwa cerita ini kemungkinan besar hanyalah strategi pemasaran dari industri makaroni di Amerika pada tahun 1920-an.
Meskipun Tiongkok memang memiliki tradisi mi tertua di dunia (ditemukan jejak mi berumur 4.000 tahun di Lajia), mi tersebut terbuat dari milet, bukan gandum durum yang menjadi bahan baku utama spageti Italia.
Jejak Arab di Tanah Sisilia
Bukti sejarah yang lebih kuat justru merujuk pada pengaruh bangsa Arab. Jauh sebelum Marco Polo menginjakkan kaki di Tiongkok, terdapat catatan tertulis dari abad ke-12 oleh seorang ahli geografi bernama Al-Idrisi.