POLA JABAR - Selama bertahun-tahun, keju sering dicap sebagai "makanan terlarang" bagi mereka yang peduli dengan kesehatan jantung, terutama karena kandungan lemak jenuh dan natriumnya yang tinggi. Kekhawatiran ini memang beralasan, sebab lemak jenuh berlebihan dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL), yang dapat menyumbat pembuluh darah. Namun, penelitian ilmiah modern, termasuk kajian mendalam dari Harvard Health, mulai memberikan perspektif yang jauh lebih bernuansa.
Riset terbaru menunjukkan bahwa efek keju pada kesehatan jantung mungkin tidak sesederhana yang diperkirakan. Matriks makanan yaitu bagaimana nutrisi terbungkus dalam struktur makanan secara keseluruhan memainkan peran penting. Dalam keju, lemak, protein, dan kalsium berinteraksi sedemikian rupa sehingga dampak keseluruhan terhadap tubuh, terutama kadar kolesterol, bisa jadi netral atau bahkan positif bagi sebagian orang, berbeda dengan lemak jenuh dari sumber lain. Oleh karena itu, sudah waktunya untuk melihat keju bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai makanan kompleks yang perlu dipahami konsumsinya.
Fokus riset telah bergeser dari sekadar melihat kandungan lemak jenuh secara isolasi ke melihat jenis keju dan pola makan secara keseluruhan. Sebagai contoh, beberapa jenis keju, terutama yang difermentasi seperti Cheddar dan Gouda, mengandung senyawa bioaktif yang terbentuk selama proses pembuatannya.
Senyawa ini, seperti probiotik (pada keju mentah atau belum dipasteurisasi) dan peptida tertentu, diduga memiliki efek protektif terhadap jantung, misalnya membantu menurunkan tekanan darah atau memiliki sifat anti-inflamasi.
Kalsium dalam keju juga berperan unik; ada teori yang menyebutkan bahwa kalsium dapat mengikat sebagian kecil lemak di usus, sehingga menghambat penyerapan lemak tersebut oleh tubuh. Dengan demikian, konsumsi keju dalam jumlah moderat, sebagai bagian dari pola makan yang kaya buah, sayur, dan biji-bijian utuh (seperti diet Mediterania), tampaknya tidak meningkatkan risiko penyakit jantung dan mungkin memiliki manfaat gizi lain yang seimbang.
Pesan utama dari analisis kesehatan jantung yang dilakukan oleh Harvard Health adalah perlunya moderasi dan pemilihan jenis keju yang bijak. Keju, meskipun kaya nutrisi seperti protein dan kalsium yang baik untuk tulang, tetap mengandung kalori, lemak jenuh, dan garam yang perlu diperhatikan.
Daripada mengeliminasi keju sepenuhnya, strategi yang lebih cerdas adalah membatasi porsi dan memilih varian keju yang secara alami memiliki kadar natrium atau lemak yang lebih rendah, atau yang kaya akan manfaat fermentasi, seperti keju cottage atau keju feta (dalam porsi terbatas).
Kuncinya bukan pada apakah Anda makan keju, tetapi berapa banyak dan jenis apa yang Anda santap, serta bagaimana keju tersebut berintegrasi dengan seluruh asupan makanan harian Anda. Mengonsumsi keju sebagai pengganti makanan tinggi lemak jenuh lainnya jauh lebih baik daripada menjadikannya tambahan di atas hidangan yang sudah padat kalori.
Riset modern kini memberikan lampu hijau bahwa keju bukan lagi "musuh" bagi jantung Anda, asalkan dikonsumsi dengan penuh kesadaran dan kontrol porsi yang tepat. Jangan biarkan mitos lama menghalangi Anda menikmati manfaat nutrisi dan rasa lezat dari keju.***