POLA JABAR - Selama berabad-abad, kayu manis telah dikenal luas sebagai bumbu dapur yang memberikan aroma hangat pada masakan dan minuman.
Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan di bidang kesehatan mental dan psikologi, peran kayu manis kini meluas ke ranah aroma terapi dan relaksasi.
Aroma khas yang manis sekaligus pedas ini dipercaya memiliki kemampuan unik dalam mempengaruhi sistem saraf manusia, memberikan efek menenangkan, sekaligus meningkatkan ketajaman mental.
Penggunaan kayu manis sebagai media relaksasi bukanlah sekadar tren gaya hidup, melainkan didasari oleh cara otak kita merespons bau-bauan tertentu yang berkaitan erat dengan sistem limbik.
Kaitan Aroma dan Respons Otak
Aroma terapi menggunakan minyak esensial kayu manis bekerja dengan cara merangsang reseptor penciuman yang mengirimkan sinyal langsung ke area otak yang mengatur emosi dan memori.
Wangi kayu manis sering dikaitkan dengan perasaan nyaman, kehangatan rumah, dan nostalgia masa kecil.
Respons emosional positif inilah yang kemudian membantu menurunkan kadar kortisol atau hormon stres dalam tubuh, sehingga seseorang merasa lebih rileks setelah menghirup aromanya.
Sebagaimana diuraikan dalam artikel psikologi dari laman Psychology Today, indra penciuman kita memiliki jalur pintas menuju pusat emosi di otak, dan aroma rempah seperti kayu manis terbukti dapat meningkatkan fungsi kognitif serta kewaspadaan.