POLA JABAR - Kayu manis bukan sekadar pelengkap aroma dalam secangkir kopi atau taburan di atas kue gulung. Jauh sebelum ia tersedia melimpah di rak supermarket, kayu manis adalah simbol status, kekayaan, dan kekuasaan. Rempah ini memiliki sejarah yang begitu dramatis, melibatkan mitos yang sengaja diciptakan, persaingan antar-kerajaan, hingga perburuan samudera yang mengubah peta dunia selamanya.

Mengutip catatan sejarah rempah yang sering diulas oleh para sejarawan dan jurnalis BBC Travel, kayu manis merupakan salah satu komoditas tertua yang diperdagangkan secara global. Keberadaannya telah tercatat dalam teks-teks kuno Mesir hingga manuskrip klasik dari peradaban Tiongkok.

Asal-Usul: Tersembunyi di Pulau Ceylon

Asal-usul kayu manis asli (Cinnamomum verum) atau yang sering disebut kayu manis "sejati" bermuara di satu titik spesifik di dunia: Pulau Sri Lanka, yang dahulu dikenal dengan nama Ceylon.

Di hutan-hutan tropis pulau inilah, pohon kayu manis tumbuh subur dan kulit kayunya diambil melalui proses yang sangat teliti.

Selain varietas dari Sri Lanka, terdapat pula jenis Cassia yang banyak ditemukan di wilayah Tiongkok dan Indonesia (khususnya Kerinci).

Namun, pada masa kuno, lokasi pasti pertumbuhan kayu manis ini menjadi rahasia yang dijaga sangat ketat oleh para pedagang Arab yang menguasai jalur perdagangan darat.

Mitos Burung Phoenix dan Rahasia Pedagang Arab

Salah satu bagian paling menarik dari sejarah kayu manis adalah narasi fiktif yang menyertainya selama berabad-abad. Untuk menjaga harga tetap tinggi dan menakuti pesaing, para pedagang Arab menciptakan mitos bahwa kayu manis berasal dari sarang burung raksasa yang terletak di puncak tebing yang mustahil dicapai manusia.