POLA JABAR - Dalam beberapa tahun terakhir, tren penggunaan rokok elektrik atau vape meningkat pesat, sering kali dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional. Namun, riset terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Thorax.com mengungkap sisi gelap yang jarang disadari oleh penggunanya: keberadaan partikel ultra halus (ultrafine particles) yang mampu menembus pertahanan terdalam sistem pernapasan manusia.

Bukan sekadar uap air beraroma, apa yang dihirup oleh pengguna vape adalah aerosol kompleks yang membawa risiko kesehatan serius secara mikroskopis.

Apa Itu Partikel Ultra Halus?

Partikel ultra halus adalah partikel dengan diameter kurang dari 100 nanometer. Sebagai perbandingan, ukurannya jauh lebih kecil daripada sel darah manusia. Karena ukurannya yang mikroskopis, partikel ini tidak tersaring oleh bulu hidung atau saluran pernapasan atas.

Ketika seseorang menghirup uap vape, partikel-partikel ini meluncur bebas hingga mencapai alveoli, yaitu kantong udara kecil di paru-paru tempat terjadinya pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Di sinilah masalah utama dimulai.

Mekanisme Kerusakan Jaringan Paru-Paru

Berdasarkan laporan dalam Thorax, partikel ultra halus ini membawa senyawa kimia berbahaya, logam berat, dan nikotin langsung ke dalam jaringan interstitial paru. Paparan secara terus-menerus memicu respons inflamasi atau peradangan kronis.

Ketika partikel tersebut mendarat di alveoli, sistem kekebalan tubuh akan mengirimkan sel makrofag untuk "memakan" benda asing tersebut. Namun, karena paparan yang konstan, proses ini justru memicu stres oksidatif yang merusak dinding alveoli. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan fungsi paru yang signifikan, serupa dengan gejala awal penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Dampak Kimiawi dan Reaksi Peradangan