POLA JABAR - Penelitian klinis dan studi ilmiah modern kini semakin fokus pada bahan-bahan alami yang secara tradisional telah digunakan untuk kesehatan, salah satunya adalah buah nangka (Artocarpus heterophyllus).

Buah tropis yang populer ini kini menjadi subjek penelitian intensif, terutama potensi ekstranya dalam membantu mengelola penyakit diabetes melitus.

Ulasan klinis, termasuk yang dipublikasikan di PubMed, menyoroti bahwa berbagai bagian dari pohon nangka mulai dari buah muda (belum matang) hingga biji dan daunnya mengandung senyawa bioaktif yang menunjukkan aktivitas anti-hiperglikemik (penurun kadar gula darah). 

Hal ini bukan hanya klaim tradisional, tetapi didukung oleh data yang menunjukkan bahwa komponen dalam ekstrak nangka, seperti flavonoid, tanin, dan serat, berinteraksi dengan proses metabolisme tubuh yang mengatur gula darah. 

Penemuan ini membuka pintu bagi pengembangan terapi pendamping alami yang aman dan efektif untuk jutaan penderita diabetes di seluruh dunia yang mencari solusi alternatif atau komplementer.

Mekanisme kerja ekstrak nangka dalam mengontrol gula darah ternyata cukup kompleks dan multifaset. 

Salah satu fokus utama penelitian adalah kemampuan ekstrak biji nangka untuk menghambat enzim alfa-glukosidase dan alfa-amilase di saluran pencernaan. 

Kedua enzim ini bertanggung jawab memecah karbohidrat kompleks (seperti nasi atau roti) menjadi glukosa sederhana yang kemudian diserap ke dalam aliran darah. 

Dengan menghambat aktivitas enzim-enzim ini, proses penyerapan glukosa menjadi lebih lambat dan bertahap. Ini berarti lonjakan kadar gula darah setelah makan dapat diminimalkan, yang sangat krusial bagi pasien diabetes.