POLA JABAR - Siapa yang tidak kenal dengan almond? Kacang yang sering dianggap sebagai "superfood" ini menjadi favorit banyak orang karena kandungan nutrisinya yang melimpah. Namun, dibalik kerenyahan dan rasanya yang gurih, ada proses pertumbuhan yang panjang, rumit, dan sangat bergantung pada keseimbangan alam.
Berdasarkan data dan riset dari University of California Agriculture and Natural Resources, pertumbuhan almond bukanlah proses instan. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan dan ketelitian petani untuk memastikan setiap pohon menghasilkan biji yang berkualitas. Mari kita bedah tahapan transformasinya.
Masa Dormansi dan Keajaiban Musim Semi
Siklus pertumbuhan almond dimulai pada musim dingin, tepatnya saat pohon memasuki masa dormansi. Pada fase ini, pohon almond seolah "tidur" untuk mengumpulkan energi. Namun, begitu udara mulai menghangat di bulan Februari, keajaiban dimulai.
Pohon almond akan dipenuhi dengan bunga berwarna putih kemerahan yang sangat cantik. Inilah fase krusial pertama. Tanpa bunga yang sehat, tidak akan ada buah. Menariknya, almond sangat bergantung pada bantuan lebah untuk proses penyerbukan silang. Tanpa bantuan serangga penyerbuk ini, putik bunga tidak akan terbuahi dan pohon tidak akan menghasilkan kacang.
Pembentukan Buah dan Pengerasan Cangkang
Setelah penyerbukan berhasil, kelopak bunga akan gugur dan digantikan oleh buah kecil yang berwarna hijau pucat. Dalam dunia botani, almond sebenarnya bukanlah kacang-kacangan sejati, melainkan buah berbiji (drupe), mirip dengan persik atau plum.
Selama bulan Maret hingga Juni, buah almond terus membesar. Di dalamnya, biji almond yang kita konsumsi mulai terbentuk. Pada fase ini, konsumsi air sangat menentukan kualitas biji. Di bagian dalam buah, cangkang yang melindungi biji akan mulai mengeras untuk memberikan perlindungan maksimal dari gangguan hama atau cuaca ekstrem.
Fase Hull Split: Tanda Kematangan Dimulai