POLA JABAR - Selama bertahun-tahun, ada mitos kesehatan yang sangat populer di masyarakat: mengonsumsi jeruk atau buah citrus lainnya saat cuaca dingin dapat menyebabkan flu. Kesalahpahaman ini telah bertahan lama, padahal secara ilmiah, klaim tersebut tidak berdasar.
Faktanya, jeruk adalah salah satu buah yang paling bermanfaat untuk menjaga daya tahan tubuh, terutama saat musim penyakit. Memisahkan mitos dari fakta adalah kunci untuk mengoptimalkan diet demi kesehatan yang prima.
Mitos bahwa jeruk menyebabkan flu mungkin berakar pada dua hal. Pertama, banyak orang mulai mengkonsumsi jeruk setelah mereka sudah merasa sakit, mencoba memanfaatkan kandungan vitamin C-nya. Ketika gejala flu tetap muncul atau memburuk, orang menyimpulkan bahwa jeruk adalah penyebabnya, padahal flu sudah dalam masa inkubasi.
Kedua, beberapa orang mungkin sensitif terhadap rasa asam jeruk yang dapat mengiritasi tenggorokan yang sudah meradang, namun ini hanyalah gejala iritasi lokal, bukan infeksi virus.
Para ahli kesehatan, termasuk yang diulas oleh WebMD, secara tegas membantah mitos ini. Flu (influenza) disebabkan oleh virus, bukan oleh makanan yang dikonsumsi, rasa dingin, atau sifat asam dari buah.
Jeruk justru memiliki peran yang sepenuhnya berlawanan: buah ini adalah sekutu terkuat sistem kekebalan tubuh. Mengabaikan jeruk karena ketakutan yang tidak berdasar berarti kehilangan manfaat nutrisi penting yang dapat membantu tubuh melawan infeksi.
Mitos vs. Fakta: Jeruk dan Flu
- Mitos: Jeruk menyebabkan flu atau memperburuknya.
- Fakta: Jeruk sama sekali tidak menyebabkan flu. Flu disebabkan oleh virus influenza. Jeruk, dengan kandungan nutrisinya, justru membantu tubuh mempersiapkan diri melawan virus. Mengkonsumsi jeruk saat sudah sakit juga tidak akan memperburuk infeksi virus; asamnya mungkin hanya memberikan rasa tidak nyaman sesaat pada tenggorokan yang sakit.