POLA JABAR – Di tengah musim pancaroba dan serangan flu yang tak terhindarkan, suplemen Vitamin C seringkali menjadi senjata andalan yang langsung dicari. Baik dalam bentuk tablet effervescent, kunyah, maupun air perasan jeruk nipis, banyak dari kita meyakini bahwa 'si asam' ini adalah jalan pintas untuk mencegah, bahkan mempersingkat durasi penyakit pilek dan flu.
Namun, benarkah klaim populer ini didukung oleh bukti ilmiah yang kuat? Sebuah tinjauan sistematis terkemuka dari Cochrane Library sumber kredibel yang sering dijadikan rujukan oleh profesional kesehatan dunia memberikan jawaban yang mungkin mengejutkan banyak orang.
Membongkar Mitos: Apakah Vitamin C Mencegah Kita dari Flu?
Pertama-tama, mari kita luruskan dulu. Sebagian besar penelitian yang dianalisis oleh Cochrane, yang melibatkan ribuan partisipan dari populasi umum, menyimpulkan satu hal yang cukup tegas: suplementasi Vitamin C secara rutin tidak mengurangi insiden atau risiko seseorang terserang flu atau pilek.
Artinya, mengkonsumsi dosis tinggi Vitamin C setiap hari, dalam kondisi normal, tidak membuat Anda kebal terhadap virus flu. Anggap saja seperti payung yang tidak selalu membuat Anda lolos dari hujan, hanya terkadang membantu sedikit di tengah badai.
Namun, ada pengecualian yang menarik dan patut dicatat. Dalam kasus kelompok tertentu, seperti pelari maraton, pemain ski, atau tentara yang menjalani latihan fisik ekstrem dalam waktu singkat dan di lingkungan dingin, suplementasi rutin Vitamin C berhasil mengurangi risiko terkena flu hingga separuhnya. Fenomena ini menunjukkan peran Vitamin C dalam kondisi stres fisik berat yang menekan sistem imun.
Lantas, Benarkah Vitamin C Memangkas Durasi Flu? Jawabannya: Iya, Tapi...
Inilah bagian yang paling dinanti. Analisis dari Cochrane Library menunjukkan bahwa bagi orang yang rutin mengkonsumsi Vitamin C (minimal 0,2 gram per hari), ada efek positif yang konsisten pada durasi penyakit.
Pada Orang Dewasa: Konsumsi Vitamin C secara rutin dikaitkan dengan penurunan durasi gejala flu sekitar 8%.