POLA JABAR - Banyak asumsi yang beredar di masyarakat mengenai kebiasaan minum air dingin. Ada yang menyebutkan bahwa air es dapat membekukan lemak, namun yang lebih sering menjadi kekhawatiran adalah dampaknya terhadap sistem pernapasan.
Dalam perspektif medis, terutama merujuk pada prinsip-prinsip kesehatan yang sering ditekankan oleh institusi seperti Mayo Clinic, hubungan antara suhu air dan paru-paru jauh lebih kompleks daripada sekadar "membuat paru-paru basah."
Sistem pernapasan manusia dilapisi oleh selaput lendir atau mukosa yang berfungsi sebagai pelindung. Saat kita mengkonsumsi air yang sangat dingin secara tiba-tiba, tubuh mengalami reaksi termoregulasi. Pada beberapa individu yang sensitif, suhu dingin dapat memicu penyempitan sementara pada pembuluh darah di area tenggorokan.
Menurut tinjauan medis, air dingin dapat menyebabkan lendir atau mukus di saluran napas menjadi lebih kental. Lendir yang menebal ini lebih sulit untuk dikeluarkan oleh silia (rambut halus di saluran napas), yang berpotensi menyebabkan sensasi tidak nyaman atau rasa "mengganjal" di tenggorokan yang sering disalah artikan sebagai awal dari flu.
Bagi populasi umum, minum air es mungkin tidak memberikan dampak signifikan. Namun, situasinya berbeda bagi penderita asma atau hiperreaktivitas saluran napas. Paparan suhu ekstrem baik dari udara dingin maupun minuman dingin dapat memicu kondisi yang disebut bronkospasme.
Bronkospasme adalah pengencangan otot-otot yang melapisi saluran udara (bronkiolus) di paru-paru. Ketika otot-otot ini menegang, saluran udara menyempit, sehingga penderita akan merasakan sesak napas, batuk, atau bunyi mengi. Inilah alasan mengapa pakar kesehatan sering menyarankan penderita asma untuk mengonsumsi air dengan suhu ruang guna menjaga kestabilan saluran napas.
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah anggapan bahwa air dingin menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru. Secara anatomi, air yang kita minum masuk ke kerongkongan menuju lambung, bukan ke paru-paru. Namun, suhu dingin memang dapat memperlambat gerakan silia dalam menyaring virus dan bakteri.
Jika silia bekerja lebih lambat karena suhu dingin yang ekstrem, risiko agen infeksius untuk menetap di saluran napas sedikit meningkat. Meski bukan penyebab utama infeksi paru, suhu dingin bisa menjadi faktor pendukung jika daya tahan tubuh sedang menurun.
Mayo Clinic selalu menekankan pentingnya hidrasi untuk menjaga kelembapan jaringan tubuh, termasuk sistem pernapasan. Air membantu menjaga lapisan mukosa tetap tipis sehingga kotoran dan kuman mudah dikeluarkan. Berikut adalah tips hidrasi untuk kesehatan pernapasan yang optimal: