POLA JABAR - Banyak perdebatan muncul mengenai suhu air minum yang paling optimal bagi kesehatan. Salah satu topik yang paling sering dibicarakan adalah apakah minum air dingin benar-benar dapat membantu meningkatkan metabolisme atau justru menghambat proses pencernaan. 

Berdasarkan tinjauan medis, terdapat mekanisme biologis menarik yang terjadi saat air bersuhu rendah masuk ke dalam sistem tubuh manusia.

Mekanisme Termogenesis Induksi Air

Ketika Anda meminum air dingin, tubuh tidak membiarkan cairan tersebut tetap dingin di dalam perut. Tubuh manusia memiliki suhu internal konstan sekitar 37 derajat Celsius. Untuk mempertahankan homeostasis, tubuh harus bekerja ekstra guna menghangatkan air dingin tersebut agar sesuai dengan suhu internal.

Proses ini dikenal sebagai termogenesis. Dalam proses ini, tubuh membakar sejumlah kecil kalori ekstra untuk menghasilkan panas. Meskipun jumlah kalori yang terbakar tidaklah masif, aktivitas metabolisme ini terjadi secara otomatis dan berkelanjutan setiap kali kita mengonsumsi cairan di bawah suhu ruang.

Dampak pada Pembakaran Kalori

Beberapa penelitian kecil menunjukkan bahwa minum air dingin dapat memberikan dorongan singkat pada pengeluaran energi istirahat (resting energy expenditure). Peningkatan ini diperkirakan berkisar antara 2 hingga 3 persen dalam waktu 90 menit setelah minum. 

Meski angka ini terlihat kecil, dalam jangka panjang dan jika dikombinasikan dengan hidrasi yang cukup, hal ini mendukung fungsi metabolisme yang lebih sehat.

Penting untuk dicatat bahwa hidrasi secara umum, terlepas dari suhunya, adalah kunci utama produksi energi seluler. Tanpa air yang cukup, mitokondria (pusat energi sel) tidak dapat bekerja maksimal, yang seringkali membuat seseorang merasa cepat lelah dan lesu.