POLA JABAR - Selama puluhan tahun, dunia bergantung pada plastik konvensional yang berasal dari olahan minyak bumi. Masalahnya, material ini membutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa hancur, dan itu pun hanya menjadi mikroplastik yang merusak ekosistem.
Namun, sebuah terobosan yang sering diulas dalam Scientific American kini memberikan harapan baru melalui pemanfaatan biomassa, khususnya jagung, sebagai bahan baku plastik masa depan.
Teknologi ini melahirkan apa yang disebut dengan Polylactic Acid atau PLA. Prosesnya dimulai dari pengambilan pati dari biji jagung. Melalui proses fermentasi yang melibatkan bakteri penghasil asam laktat, pati tersebut diubah menjadi molekul asam laktat.
Molekul-molekul inilah yang kemudian dirangkai menjadi rantai polimer panjang hingga membentuk material yang secara fisik sangat menyerupai plastik bening pada umumnya.
Keunggulan utama dari plastik berbahan jagung ini terletak pada jejak karbonnya yang jauh lebih rendah. Karena sumbernya adalah tanaman yang menyerap karbon dioksida selama masa pertumbuhannya, proses produksi PLA secara signifikan mengurangi emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan pembuatan plastik berbasis polimer sintetis.
Selain itu, plastik jagung tidak mengandung zat kimia berbahaya seperti Bisphenol A (BPA) yang sering memicu kekhawatiran pada kemasan makanan berbahan minyak bumi.
Namun, memahami plastik jagung memerlukan ketelitian lebih dari sekadar melihat label ramah lingkungan. Meski berasal dari bahan alami, PLA memerlukan kondisi tertentu untuk bisa terurai dengan sempurna.
Material ini dirancang untuk hancur dalam fasilitas pengomposan industri yang memiliki suhu dan kelembapan terkontrol secara khusus. Artinya, membuang plastik jagung ke tempat pembuangan sampah biasa atau ke laut tetap bukan tindakan yang bijak, karena proses penguraiannya akan berjalan sangat lambat tanpa bantuan mikroba yang tepat.
Inovasi ini terus berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran global terhadap polusi sampah. Saat ini, plastik jagung tidak hanya digunakan untuk sedotan atau kantong belanja, tetapi sudah merambah ke dunia medis seperti benang bedah hingga komponen teknologi cetak tiga dimensi (3D printing).