POLA JABAR - Narasi mengenai rokok elektrik atau vape sebagai alternatif yang "lebih sehat" dibanding rokok konvensional kini mulai tertantang oleh data medis yang kian kuat. Meski tidak melibatkan pembakaran tembakau, elemen utama dalam vape yakni nikotin tetap menjadi aktor intelektual di balik berbagai gangguan indikator kardiovaskular.

Para ahli dari Johns Hopkins Medicine secara konsisten memberikan peringatan bahwa beralih ke vape bukanlah solusi bebas risiko bagi jantung. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai kaitan antara nikotin dalam vape dengan kesehatan sistem peredaran darah manusia.

Nikotin adalah zat stimulan yang bekerja sangat cepat setelah masuk ke dalam aliran darah. Begitu seseorang menghisap vape, nikotin memicu pelepasan adrenalin (epinefrin). Hormon ini menyebabkan lonjakan denyut jantung secara instan dan penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi).

Kondisi ini memaksa jantung bekerja ekstra keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Dalam jangka panjang, peningkatan tekanan darah ini dapat merusak dinding arteri, yang merupakan pintu gerbang utama menuju penyakit jantung koroner dan stroke.

Studi yang sering dikutip oleh peneliti di Johns Hopkins menunjukkan bahwa uap dari rokok elektrik mengandung bahan kimia yang dapat memicu stres oksidatif dan peradangan pada lapisan dalam pembuluh darah (endotel).

Nikotin mempercepat proses pengerasan arteri atau aterosklerosis. Arteri yang seharusnya elastis menjadi kaku, sehingga aliran darah terhambat. Jika hal ini terjadi pada pembuluh darah yang menuju jantung, risiko serangan jantung meningkat secara signifikan. Bahkan, beberapa data menunjukkan bahwa pengguna vape memiliki risiko 56% lebih tinggi terkena serangan jantung dibandingkan mereka yang tidak merokok.

Paparan nikotin dalam dosis tinggi yang sering ditemukan pada cairan vape modern (terutama jenis salt nicotine) dapat mengganggu stabilitas listrik jantung. Hal ini dapat menyebabkan palpitasi atau detak jantung yang tidak teratur, yang dikenal sebagai aritmia.

Dalam kasus yang ekstrem, gangguan irama jantung ini bisa bersifat fatal jika tidak dideteksi sejak dini. Nikotin secara efektif mengubah cara sel-sel jantung berkomunikasi, yang pada akhirnya merusak ritme sirkadian organ vital tersebut.

Banyak pengguna menggunakan vape dengan tujuan berhenti merokok, namun akhirnya justru menjadi pengguna ganda (dual users). Pakar klinis dari Johns Hopkins menekankan bahwa kombinasi antara rokok konvensional dan vape justru memberikan beban toksisitas yang jauh lebih berat bagi sistem kardiovaskular.