POLA JABAR - Dalam satu dekade terakhir, perdebatan mengenai keamanan rokok elektrik atau vape dibandingkan dengan rokok konvensional terus menjadi sorotan global. Banyak narasi yang berkembang menyebutkan bahwa beralih ke perangkat elektronik adalah langkah "lebih sehat". 

Namun, laporan kesehatan publik dari berbagai studi internasional menekankan bahwa memahami perbedaan keduanya memerlukan tinjauan yang jauh lebih dalam daripada sekadar jargon pemasaran.

Secara fundamental, perbedaan utama antara keduanya terletak pada mekanisme pengantaran nikotin dan zat kimia yang dihasilkan. Namun, bagi tubuh manusia, keduanya membawa beban biologis yang patut diwaspadai.

Mekanisme Pembakaran vs Penguapan

Rokok konvensional bekerja melalui proses pembakaran tembakau. Proses ini menghasilkan asap yang mengandung ribuan zat kimia, di mana ratusan di antaranya beracun dan puluhan lainnya bersifat karsinogenik (pemicu kanker). Tar dan karbon monoksida adalah dua produk sampingan paling berbahaya dari pembakaran ini yang secara langsung merusak fungsi silia di paru-paru dan mengurangi kapasitas oksigen dalam darah.

Di sisi lain, rokok elektronik tidak membakar tembakau, melainkan memanaskan cairan (e-liquid) untuk menghasilkan aerosol atau uap. Karena tidak ada pembakaran tembakau, kadar tar dan karbon monoksida memang jauh lebih rendah. Inilah yang sering menjadi landasan klaim bahwa vape memiliki risiko yang dikurangi. Namun, uap yang dihasilkan bukanlah sekadar uap air biasa; ia mengandung partikel halus, logam berat, dan senyawa organik volatil yang dapat masuk jauh ke dalam jaringan paru.

Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah

Studi kesehatan menunjukkan bahwa baik rokok konvensional maupun elektronik sama-sama memiliki dampak buruk terhadap sistem kardiovaskular. Nikotin, yang ada pada kedua produk tersebut, merupakan zat adiktif yang memicu lonjakan adrenalin, meningkatkan tekanan darah, dan mempercepat denyut jantung.

Penggunaan rokok elektronik dalam jangka panjang telah dikaitkan dengan peningkatan kekakuan arteri dan disfungsi endotel (kerusakan lapisan dalam pembuluh darah). Meskipun paparan zat kimia pada vape mungkin lebih sedikit, efek stimulan dari nikotin dosis tinggi yang sering ditemukan pada produk elektrik tetap menempatkan pengguna pada risiko penyakit jantung koroner dan stroke yang signifikan.