POLA JABAR - Banyak dari kita yang secara refleks mencari segelas air es saat merasa haus atau setelah beraktivitas di bawah terik matahari. Rasanya memang menyegarkan seketika, namun tahukah Anda bahwa air hangat sebenarnya memiliki peran yang sangat krusial dalam mempercepat proses hidrasi tubuh?

Dehidrasi bukan perkara sepele. Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kekurangan cairan dapat mempengaruhi fungsi kognitif, menyebabkan perubahan suasana hati (mood), hingga memicu pembentukan batu ginjal. Oleh karena itu, memilih jenis air yang tepat untuk dikonsumsi menjadi langkah awal perlindungan kesehatan yang sangat penting.

Mengapa Harus Air Hangat?

Meskipun CDC menekankan bahwa hal terpenting adalah kecukupan volume air yang masuk, beberapa ahli kesehatan mencatat bahwa air dengan suhu ruang atau hangat cenderung lebih "ramah" bagi sistem pencernaan. Air hangat membantu melebarkan pembuluh darah (vasodilatasi), yang secara teori dapat membantu mempercepat distribusi oksigen dan nutrisi ke seluruh sel tubuh.

Dalam panduan resminya, CDC menjelaskan bahwa air putih adalah pilihan terbaik dibandingkan minuman manis atau berkafein. Minum air hangat secara rutin terbukti mampu merangsang sirkulasi darah dan membantu sistem limfatik bekerja lebih optimal dalam membuang racun, yang secara tidak langsung menjaga keseimbangan cairan tubuh tetap terjaga.

Tanda Dehidrasi yang Sering Terabaikan

Seringkali kita baru minum saat tenggorokan terasa kering. Padahal, CDC memperingatkan bahwa rasa haus adalah sinyal "terlambat" dari otak bahwa tubuh sudah mulai kekurangan cairan. Beberapa gejala dehidrasi yang sering diabaikan antara lain: