POLA JABAR - Fenomena anak kecil mengaku melihat "hantu" atau sosok tak kasat mata seringkali memicu perdebatan antara mitos dan sains. Namun, dari sudut pandang psikologi perkembangan (seperti yang dibahas dalam sumber psikologi anak), alasan di baliknya cenderung berakar pada cara kerja otak anak yang sedang berkembang, terutama kemampuan mereka dalam memproses dan membedakan antara realitas dan fantasi.
Batasan antara kedua hal ini pada anak usia dini terutama prasekolah masih sangat tipis dan fleksibel. Bagi mereka, ide dan gambaran yang muncul di pikiran bisa terasa sama nyatanya dengan benda fisik di depan mata.
Mereka masih berada dalam tahap berpikir egosentris dan magis, di mana mereka percaya bahwa keinginan, mimpi, atau imajinasi mereka memiliki kekuatan nyata di dunia fisik.
Oleh karena itu, pengalaman yang diinterpretasikan orang dewasa sebagai halusinasi atau imajinasi liar, bagi anak adalah sebuah pengalaman nyata yang layak diceritakan dan dipercaya. Ini bukanlah tanda adanya masalah spiritual, melainkan bagian normal dari proses kognitif yang belum matang.
Aspek kedua yang sangat mempengaruhi adalah Persepsi yang Belum Lengkap atau disebut juga fenomena Pareidolia. Pareidolia adalah kecenderungan psikologis untuk melihat pola atau objek yang familiar (seperti wajah atau sosok manusia) pada stimulasi visual yang acak atau samar. Contoh paling umum adalah melihat wajah di awan atau bulan.
Karena otak anak masih dalam tahap belajar memproses data visual dengan efisien, ditambah dengan fokus yang mungkin belum optimal di malam hari atau dalam kondisi kurang cahaya, otak mereka cenderung mengisi celah informasi yang hilang dengan interpretasi yang paling mudah dikenali yaitu bentuk manusia atau figur yang mereka kenal dari cerita atau film.
Ketika seorang anak melihat bayangan pakaian yang menggantung di sudut kamar dalam kegelapan, otaknya yang dipenuhi imajinasi lebih mudah menginterpretasikannya sebagai sosok yang berdiri daripada hanya tumpukan kain.
Hal ini diperkuat oleh rasa takut alami terhadap kegelapan (nyctophobia), yang membuat mereka lebih waspada dan mencari penjelasan atas setiap stimulus yang samar.
Lebih lanjut, peran Memori dan Saran (Sugesti) juga memainkan peranan penting dalam "penglihatan" ini. Anak kecil memiliki memori episodik yang masih sangat rentan terhadap sugesti, apalagi jika mereka baru saja menonton film horor anak, mendengar cerita seram dari teman, atau bahkan hanya mendengar desas-desus.