POLA JABAR - Selama ini, kita mungkin hanya fokus pada diet untuk menurunkan berat badan atau menjaga kesehatan jantung. Namun, studi terbaru, termasuk yang gencar disuarakan oleh Harvard Medical School, mengungkap fakta mengejutkan: kesehatan mental Anda sangat bergantung pada apa yang Anda makan.

Bukan sekadar mitos, hubungan erat antara makanan dan mood ini didukung kuat oleh ilmu pengetahuan. Pola makan yang buruk tidak hanya berisiko pada obesitas, tetapi juga menjadi pemicu utama gangguan seperti depresi, kecemasan, hingga kelelahan mental kronis. Lantas, bagaimana makanan bisa mempengaruhi otak dan jiwa Anda?

Para peneliti dari Harvard menyoroti konsep sumbu usus-otak (gut-brain axis). Usus kita, yang sering dijuluki "otak kedua," adalah rumah bagi triliunan bakteri yang membentuk mikrobioma. Bakteri-bakteri ini tidak diam saja; mereka berkomunikasi langsung dengan otak melalui:

  1. Saraf Vagus: Saraf panjang yang menghubungkan sistem saraf pusat (otak) dan sistem saraf enterik (usus).

    Produksi Neurotransmiter: Sekitar 95% serotonin hormon kebahagiaan yang mengatur mood dan tidur diproduksi di usus.

    Ketika Anda mengonsumsi makanan sehat, bakteri baik akan berkembang biak, menghasilkan senyawa anti-inflamasi, dan memastikan produksi neurotransmiter berjalan lancar. Sebaliknya, diet tinggi gula, lemak jenuh, dan makanan olahan akan merusak keseimbangan ini, memicu peradangan, dan mengganggu sinyal ke otak.

    Poin Kunci dari Harvard: "Peradangan kronis tingkat rendah, yang sering dipicu oleh pola makan tidak sehat, merupakan faktor risiko signifikan untuk depresi dan kecemasan."

    Makanan Musuh Kesehatan Mental yang Wajib Dihindari

    Harvard Medical School memperingatkan, jenis makanan tertentu harus diwaspadai karena efek destruktifnya terhadap kesehatan mental: