POLA JABAR - Dalam lembaran sejarah Inggris, tidak ada konflik yang memiliki nama seindah sekaligus seironis "Perang Mawar" (Wars of the Roses). Berlangsung antara tahun 1455 hingga 1487, perseteruan ini bukan sekadar perebutan kekuasaan biasa, melainkan drama keluarga berkepanjangan yang melibatkan dua cabang dinasti Plantagenet: Wangsa Lancaster dan Wangsa York.

Berdasarkan catatan BBC History, nama "Perang Mawar" sendiri sebenarnya baru populer berabad-abad kemudian, salah satunya berkat pengaruh literatur klasik William Shakespeare. Namun, penggunaan bunga mawar sebagai identitas politik telah memberikan warna yang tak terhapuskan pada identitas nasional Inggris hingga hari ini.

Asal-Usul Simbol Mawar: Lancaster vs York

Persaingan ini secara visual diwakili oleh dua warna mawar yang kontras. Wangsa Lancaster mengadopsi Mawar Merah, sementara rival mereka, Wangsa York, menggunakan Mawar Putih sebagai lencana kebanggaan mereka.

Menariknya, penggunaan mawar merah oleh Lancaster sebenarnya tidak terlalu menonjol di awal konflik. Sebaliknya, mawar putih York memiliki akar sejarah yang lebih kuat sebagai simbol feodal sejak masa Edward IV. Simbol-simbol ini digunakan pada bendera, baju zirah, dan perlengkapan perang sebagai penanda identitas di tengah kekacauan medan tempur abad pertengahan yang seringkali membingungkan.

Mengapa Mawar Menjadi Begitu Penting?

Di era itu, simbolisme visual adalah segalanya. Bagi para bangsawan dan ksatria, mengenakan lencana mawar bukan hanya soal gaya, melainkan pernyataan kesetiaan hidup dan mati.

Dalam ulasan BBC History, dijelaskan bahwa perang ini dipicu oleh lemahnya kepemimpinan Henry VI dari Lancaster, yang menderita gangguan mental, serta ambisi besar Richard, Duke of York, untuk mengambil alih kendali pemerintahan. Di sinilah bunga mawar bukan lagi sekadar tanaman hias, melainkan representasi dari legitimasi takhta yang mereka klaim.

Titik Balik dan Berakhirnya Pertumpahan Darah