POLA JABAR - Penyu laut, makhluk purba yang telah melintasi samudra selama jutaan tahun, kini tidak hanya diakui sebagai salah satu keajaiban alam, tetapi juga sebagai indikator kesehatan laut dunia yang paling jujur dan sensitif. Badan lingkungan PBB, UN Environment Programme (UNEP), secara konsisten menyoroti pentingnya menjaga populasi penyu karena keberadaan mereka adalah cerminan langsung dari kondisi ekosistem laut secara keseluruhan.
Mereka adalah penghuni dari beragam habitat, mulai dari pantai berpasir tempat mereka bertelur, padang lamun, hingga terumbu karang dan lautan lepas, yang artinya, ancaman terhadap penyu sama dengan ancaman terhadap seluruh ekosistem vital ini.
Ketika populasi penyu menurun atau saat mereka ditemukan sakit akibat pencemaran, itu adalah sinyal darurat yang jelas bahwa ada sesuatu yang sangat salah di lingkungan laut kita sebuah alarm dini yang berbunyi jauh sebelum dampaknya terasa langsung oleh manusia.
Lebih dari sekadar keberadaan, peran ekologis penyu di dalam laut sungguh fundamental dalam menjaga keseimbangan yang sehat. Misalnya, Penyu Hijau (Chelonia mydas) adalah "tukang kebun" bawah laut. Mereka memakan lamun (seagrass) yang sudah tua atau terlalu lebat, yang membantu menjaga padang lamun tetap sehat dan produktif.
Padang lamun adalah salah satu ekosistem paling penting di bumi; ia berfungsi sebagai tempat pembibitan (nursery ground) bagi banyak spesies ikan komersial, menyerap karbon dioksida secara efisien, dan menstabilkan dasar laut. Tanpa Penyu Hijau, lamun bisa tumbuh berlebihan, membusuk, dan merusak ekosistem itu sendiri.
Sementara itu, Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) berperan sebagai "pembersih" terumbu karang. Mereka adalah satu-satunya vertebrata yang diketahui mampu memakan spons laut, yang jika dibiarkan tumbuh tak terkendali, akan berkompetisi dan mencekik pertumbuhan karang.
Oleh karena itu, penurunan populasi penyu jenis ini secara langsung berakibat pada melemahnya daya tahan terumbu karang, yang merupakan benteng pertahanan pantai dan rumah bagi seperempat kehidupan laut.
Keterkaitan penyu dengan berbagai habitat ini juga menjadikannya sangat rentan terhadap tiga ancaman utama yang kini mendominasi isu lingkungan global: polusi plastik, kerusakan habitat, dan perubahan iklim.
Penyu seringkali menelan sampah plastik karena mengira itu adalah makanan favorit mereka, seperti ubur-ubur kondisi yang fatal dan menyakitkan. Kerusakan pada terumbu karang akibat pemutihan atau dihancurkan oleh alat tangkap ikan berarti mereka kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan. Pemanasan global pun mempengaruhi rasio jenis kelamin tukik (anak penyu), karena suhu sarang menentukan apakah telur akan menetas menjadi jantan atau betina; suhu yang terlalu panas menghasilkan lebih banyak betina, mengancam keseimbangan populasi di masa depan.