POLA JABAR - Selama ini, masyarakat awam mengenal Vitamin C atau asam askorbat hanya sebagai "benteng" pelindung saat flu menyerang. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam European Heart Journal mengungkap fakta yang lebih krusial: Vitamin C adalah salah satu aktor utama dalam menjaga sistem perpipaan tubuh kita, yaitu pembuluh darah.
Penyakit kardiovaskular tetap menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Kabar baiknya, asupan nutrisi yang tepat, terutama antioksidan, terbukti secara klinis mampu menurunkan risiko kerusakan permanen pada sistem sirkulasi darah.
Salah satu poin penting dalam laporan European Heart Journal adalah peran Vitamin C dalam memperbaiki fungsi endotel. Endotel adalah lapisan tipis yang melapisi bagian dalam pembuluh darah. Lapisan ini bertugas mengatur tekanan darah, mencegah pembekuan darah, dan menjaga agar pembuluh darah tetap fleksibel.
Ketika seseorang kekurangan Vitamin C, tubuh mengalami stres oksidatif yang tinggi. Hal ini menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi kaku atau mengalami disfungsi endotel. Kondisi inilah yang menjadi cikal bakal terjadinya aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah akibat plak. Vitamin C bekerja dengan cara menetralkan radikal bebas yang merusak sel-sel pelapis ini, memastikan aliran darah tetap lancar tanpa hambatan.
Banyak yang lupa bahwa pembuluh darah kita membutuhkan struktur yang kuat agar tidak mudah pecah saat tekanan darah naik. Vitamin C adalah kofaktor esensial dalam produksi kolagen. Kolagen bukan hanya soal kecantikan kulit, melainkan protein struktural yang memberikan kekuatan dan elastisitas pada dinding arteri.
Tanpa Vitamin C yang cukup, produksi kolagen akan terganggu, membuat pembuluh darah menjadi rapuh. Dalam jangka panjang, kerapuhan ini meningkatkan risiko terjadinya aneurisma atau perdarahan spontan yang bisa berakibat fatal jika terjadi di otak (stroke hemoragik).
Peradangan kronis adalah musuh dalam selimut bagi kesehatan jantung. Berdasarkan data klinis, individu dengan kadar Vitamin C yang optimal dalam darah cenderung memiliki tingkat protein C-reaktif (CRP) yang lebih rendah. CRP adalah penanda utama adanya peradangan dalam tubuh yang sering dikaitkan dengan risiko serangan jantung.
Vitamin C bertindak sebagai agen anti-inflamasi alami yang membantu meredam peradangan pada dinding arteri. Hal ini mencegah penumpukan kolesterol jahat (LDL) yang teroksidasi, yang biasanya menjadi bahan baku utama pembentukan plak penyumbat jantung.
Meski suplemen banyak tersedia di pasaran, para ahli dalam jurnal tersebut menyarankan agar asupan Vitamin C diprioritaskan dari sumber alami. Buah-buahan seperti jeruk, stroberi, kiwi, dan sayuran seperti brokoli atau paprika merah mengandung bioflavonoid yang membantu penyerapan Vitamin C secara lebih efektif oleh tubuh.