POLA JABAR - Bagi banyak orang di Indonesia, menyeruput teh atau kopi panas di pagi hari adalah ritual yang tak boleh dilewatkan. Sensasi hangatnya seringkali dianggap memberikan efek relaksasi dan melegakan tenggorokan. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada batas suhu kritis yang jika dilanggar justru dapat mengancam kesehatan jangka panjang.

Merujuk pada laporan kesehatan dari Cleveland Clinic, suhu air yang terlalu tinggi saat bersentuhan dengan jaringan lunak di dalam tubuh dapat memicu kerusakan sel yang serius. Berikut adalah ulasan detail mengenai risiko yang mengintai jika Anda terbiasa mengkonsumsi minuman yang terlalu panas.

Salah satu risiko paling fatal yang sering disoroti oleh para ahli adalah kanker esofagus atau kerongkongan. Esofagus adalah saluran otot yang menghubungkan tenggorokan dengan lambung. Berbeda dengan kulit luar kita yang memiliki lapisan pelindung tebal, jaringan mukosa yang melapisi kerongkongan sangatlah sensitif dan tipis.

Paparan panas yang berulang secara kronis menyebabkan peradangan berkelanjutan. Tubuh akan berusaha menyembuhkan luka bakar mikroskopis ini dengan memproduksi sel-sel baru. Namun, proses regenerasi sel yang terlalu sering akibat cedera panas dapat meningkatkan peluang terjadinya mutasi sel, yang pada akhirnya memicu kanker. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui IARC bahkan telah mengklasifikasikan konsumsi minuman di atas 65 derajat Celcius sebagai zat karsinogenik (pemicu kanker).

Dampak yang paling instan tentu saja adalah luka bakar termal pada rongga mulut. Lidah kita ditutupi oleh ribuan kuncup pengecap (taste buds) yang sangat peka. Ketika air mendidih menyentuh lidah, sel-sel sensorik ini bisa mengalami kerusakan sementara atau permanen.

Gejala yang sering muncul adalah lidah terasa kebas, sensasi terbakar yang menetap, hingga hilangnya sensitivitas rasa untuk sementara waktu. Jika kebiasaan ini berlanjut, kesehatan jaringan gusi juga bisa terganggu, membuatnya lebih rentan terhadap infeksi bakteri karena rusaknya pelindung alami mukosa mulut.

Selain kerongkongan, suhu panas yang ekstrim juga berdampak pada enamel gigi. Perubahan suhu yang mendadak misalnya meminum air panas lalu air dingin dapat menyebabkan keretakan mikro pada enamel gigi. Hal ini membuat gigi menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan panas maupun dingin.

Di sisi lain, meski air hangat dikenal baik untuk membantu pencernaan, air yang "terlalu panas" justru bisa mengiritasi lapisan lambung. Bagi penderita asam lambung atau GERD, minuman yang sangat panas dapat memicu otot sfingter esofagus bawah menjadi rileks secara tidak normal, yang menyebabkan asam lambung naik kembali ke kerongkongan.

Menurut rekomendasi medis dari Cleveland Clinic dan para ahli kesehatan dunia, suhu ideal untuk menikmati minuman hangat berada di kisaran 50 hingga 60 derajat Celcius. Suhu ini dianggap cukup hangat untuk memberikan kenyamanan tanpa menyebabkan cedera seluler.