POLA JABAR - Padi (Oryza sativa) adalah makanan pokok bagi lebih dari separuh populasi dunia. Namun, fungsinya ternyata jauh melampaui sumber nutrisi; ia memegang peran penting dalam perjuangan melawan krisis iklim. Seperti semua tanaman hijau, padi melakukan fotosintesis, sebuah proses biologis fundamental di mana ia mengambil karbon dioksida (CO2) dari atmosfer gas rumah kaca utama pemicu pemanasan global dan mengubahnya menjadi energi serta bahan pembangun tubuhnya, seperti batang, daun, dan biji-bijian. Mekanisme penyerapan karbon ini sangat efisien, terutama selama fase pertumbuhan aktif tanaman.
Karbon yang diserap ini awalnya disimpan dalam biomassa tanaman di atas permukaan tanah. Namun, yang paling krusial adalah bagaimana sebagian besar karbon ini kemudian dialihkan ke sistem akar, membentuk cadangan karbon di dalam tanah.
Proses ini, yang dikenal sebagai sekuestrasi karbon tanah, menjadikan lahan pertanian, terutama sawah, memiliki potensi besar sebagai penyerap dan penyimpanan karbon alami jangka panjang. Memaksimalkan kemampuan ini melalui praktik pertanian yang cerdas merupakan kunci untuk mengurangi konsentrasi CO2 di udara.
Aspek yang membuat padi istimewa dalam konteks penyimpanan karbon adalah sistem perakarannya dan lingkungan sawah itu sendiri. Padi memiliki sistem perakaran yang padat dan berserat. Ketika tanaman tumbuh, mereka melepaskan sejumlah besar senyawa organik ke dalam tanah melalui akar.
Senyawa ini merupakan karbon organik yang kemudian akan dipecah dan disimpan oleh mikroorganisme tanah dalam bentuk yang stabil. Inilah yang disebut 'karbon tanah'. Lebih lanjut, praktik pengelolaan air yang khas di sawah juga mempengaruhi proses ini.
Sawah yang tergenang (terutama yang menggunakan metode irigasi intermiten atau Alternate Wetting and Drying AWD yang kian populer) dapat menciptakan kondisi anoksik (kurang oksigen) di lapisan tertentu tanah.
Dalam kondisi anoksik, proses dekomposisi karbon organik menjadi gas CO2 atau metana (CH4) oleh mikroba dapat diperlambat, sehingga karbon lebih lama tersimpan di dalam tanah daripada dilepaskan kembali ke atmosfer. Meskipun sawah sering dikaitkan dengan emisi metana (gas rumah kaca yang kuat), penelitian terbaru berfokus pada teknik irigasi dan pemilihan varietas padi yang mampu meningkatkan penyerapan CO2 dan secara bersamaan menekan produksi CH4, menggeser neraca karbon menjadi lebih positif.
Untuk memanfaatkan sepenuhnya kemampuan padi sebagai penyelamat iklim, para ilmuwan dan petani perlu mengadopsi dan menerapkan teknik pertanian yang dikenal sebagai pertanian regeneratif atau pertanian berkelanjutan.
Praktik-praktik ini termasuk penggunaan pupuk organik yang tepat, pengelolaan residu tanaman (batang dan jerami) dengan mengembalikannya ke tanah alih-alih membakarnya, dan implementasi sistem irigasi yang efisien seperti AWD.