POLA JABAR – Di balik sepiring spageti yang mengepul hangat di meja makan restoran mewah New York atau warung kasual di Jakarta, tersimpan narasi panjang tentang kerinduan, adaptasi, dan keberanian. Spageti bukan sekadar komoditas pangan; ia adalah "identitas yang bisa dimakan" yang dibawa oleh jutaan imigran Italia saat mereka melintasi Samudra Atlantik menuju dunia baru.

Banyak orang mengira pasta adalah warisan Marco Polo dari Tiongkok, namun catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Mediterania sudah mengolah gandum durum jauh sebelumnya. Namun, spageti baru benar-benar menjadi fenomena global pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, periode yang dikenal sebagai "Emigrasi Besar" Italia.

Antara tahun 1880 hingga 1920, sekitar 4 juta orang Italia meninggalkan tanah air mereka yang saat itu sedang dilanda kemiskinan dan ketidakstabilan politik. Sebagian besar berasal dari Italia Selatan, wilayah di mana pasta kering (seperti spageti) menjadi makanan pokok karena daya tahannya yang lama modal penting untuk perjalanan laut berbulan-bulan.

Sesampainya di Amerika Serikat dan negara-negara tujuan lainnya, para imigran ini menghadapi tantangan besar: bahan makanan asli Italia sulit ditemukan atau sangat mahal. Hal ini memaksa mereka melakukan improvisasi yang luar biasa.

Di Italia, spageti biasanya disajikan dengan porsi kecil, sedikit saus, dan jarang menggunakan daging. Namun, di Amerika yang kaya akan sumber daya ternak, para imigran mulai menambahkan bakso besar dan saus tomat yang kental. Lahirlah menu "Spaghetti and Meatballs"—sebuah hidangan yang sebenarnya tidak dianggap otentik di Italia, namun menjadi simbol kemakmuran bagi para imigran di tanah perantauan.

Menariknya, pada awalnya masyarakat lokal di negara tujuan memandang rendah kebiasaan makan para imigran Italia. Aroma bawang putih dan tomat dianggap asing dan terlalu tajam. Namun, para migran tetap teguh. Mereka mendirikan toko-toko kelontong kecil yang mengimpor minyak zaitun dan keju Parmesan, menciptakan kantong-kantong budaya yang kini kita kenal sebagai Little Italy.

Seiring berjalannya waktu, spageti perlahan mendobrak batasan kelas sosial. Dari makanan yang dianggap "asing" dan "murah", spageti naik kelas menjadi makanan yang digemari oleh semua kalangan karena kepraktisannya dan rasanya yang lezat.

Kini, spageti telah menjadi bahasa universal. Menurut laporan sejarah yang didokumentasikan oleh Smithsonian, keberhasilan pasta mendominasi dunia tidak lepas dari kuatnya ikatan keluarga dalam budaya Italia. Makan bersama adalah ritual suci, dan spageti adalah perekatnya.

Melalui jalur migrasi, Italia tidak hanya mengekspor manusia, tetapi juga gaya hidup. Spageti mengajarkan dunia tentang konsep conviviality bahwa makanan adalah cara terbaik untuk merayakan kehidupan, meskipun di tengah kesulitan hidup di negeri asing.