POLA JABAR - Judo, yang secara harfiah berarti "Jalan yang Lembut" atau "Cara yang Fleksibel" (dari kata Ju = lembut/fleksibel, dan Do = jalan/cara), bukan sekadar rangkaian teknik bantingan dan kuncian. Ini adalah sistem pendidikan fisik, mental, dan moral yang dirancang oleh seorang visioner bernama Jigoro Kano.

Sejarah Judo adalah kisah transformatif tentang bagaimana seni beladiri tempur kuno diubah menjadi olahraga internasional yang menjunjung tinggi prinsip "Kebaikan Bersama dan Penggunaan Energi yang Efisien." Perjalanannya dari Dojo kecil di Jepang hingga panggung Olimpiade global adalah narasi yang patut disimak.

Akar Kuno: Dari Medan Perang ke Kodokan

Untuk memahami Judo, kita harus melihat ke belakang, ke era feodal Jepang. Sebelum Judo ada, terdapat berbagai sistem beladiri tanpa senjata yang dikenal secara kolektif sebagai Jujutsu (atau Jiu-Jitsu). 

Jujutsu adalah teknik praktis yang digunakan oleh para samurai di medan perang ketika mereka kehilangan senjata.

Namun, memasuki Restorasi Meiji (1868), zaman samurai meredup, dan Jujutsu pun kehilangan relevansinya. 

Banyak aliran (Ryu) Jujutsu yang terancam punah. Inilah titik balik sejarah yang dimanfaatkan oleh Jigoro Kano.

Jigoro Kano (1860-1938), seorang pendidik yang cerdas, melihat potensi yang lebih besar dalam teknik-teknik Jujutsu. Ia menyadari bahwa banyak aspek Jujutsu yang terlalu berbahaya untuk pelatihan massal dan kurang memiliki dasar filosofis yang koheren. 

Kano mulai mempelajari dan menggabungkan elemen terbaik dari berbagai Ryu Jujutsu, seperti Kito-ryu dan Tenshin Shinyo-ryu.