POLA JABAR – Dalam lembaran sejarah manusia, jagung bukan sekadar komoditas pertanian atau bahan pangan pokok. Bagi peradaban kuno di benua Amerika, tanaman ini adalah napas kehidupan, simbol kesuburan, dan elemen sakral yang menyatukan dunia fana dengan alam dewa.
Berdasarkan catatan World History Encyclopedia, jagung menempati posisi sentral dalam struktur kepercayaan masyarakat Mesoamerika yang tak tertandingi oleh tanaman mana pun.
Salah satu kisah paling ikonik datang dari bangsa Maya melalui kitab suci mereka, Popol Vuh. Legenda ini menceritakan bahwa para dewa pencipta sempat mengalami kegagalan saat mencoba menciptakan manusia dari lumpur dan kayu. Manusia lumpur hancur, sementara manusia kayu tidak memiliki jiwa untuk menyembah penciptanya.
Titik balik terjadi ketika para dewa menemukan jagung kuning dan putih di Gunung Paxil. Dari adonan tepung jagung inilah, daging dan darah manusia pertama dibentuk. Kepercayaan ini menanamkan filosofi mendalam bahwa manusia adalah bagian integral dari alam semesta; kita adalah jagung yang berjalan.
Dalam mitologi Aztek, penghormatan terhadap jagung dipersonifikasikan melalui Dewa Centeotl. Ia digambarkan sebagai sosok yang lahir dari hubungan antara dewi kesuburan dan dewa matahari. Uniknya, Centeotl sering digambarkan dengan tongkol jagung yang tumbuh dari kepalanya, melambangkan kemakmuran yang muncul dari bumi.
Tak hanya Centeotl, bangsa Aztek juga memuja Xilonen, dewi jagung muda. Setiap musim panas, ritual pengorbanan dan tarian dilakukan untuk memastikan bulir-bulir jagung tumbuh manis dan kuat. Bagi mereka, kegagalan panen jagung bukan sekadar bencana kelaparan, melainkan pertanda murka ilahi yang bisa mengakhiri sebuah peradaban.
Siklus hidup jagung mulai dari benih yang terkubur di tanah gelap hingga tumbuh menjulang ke arah matahari menjadi metafora kuat bagi konsep reinkarnasi. Bangsa Maya percaya pada sosok Dewa Jagung yang harus turun ke dunia bawah (Xibalba), dikalahkan oleh penguasa kegelapan, namun akhirnya bangkit kembali melalui bantuan putra-putranya, Si Kembar Pahlawan.
Kebangkitan Dewa Jagung ini dianggap sebagai awal mula musim tanam dan simbol harapan bahwa kehidupan akan selalu menang atas kematian. Visualisasi dewa ini sering ditemukan pada artefak kuno dengan ciri khas rambut yang menyerupai rambut jagung dan bentuk kepala yang memanjang.
Meskipun zaman telah berganti menjadi modern, sisa-sisa penghormatan terhadap jagung masih kental terasa di komunitas adat di Meksiko dan Amerika Tengah. Jagung tetap dianggap sebagai identitas budaya yang tidak boleh dipisahkan dari ritual keseharian.