POLAJABAR - Bagi banyak orang, Bulan Ramadhan mungkin tampak sebagai tantangan fisik berupa menahan lapar dan haus selama belasan jam.
Namun, di balik ketaatan spiritual tersebut, ternyata tubuh manusia sebenarnya sedang melakukan sebuah operasi besar-besaran yang luar biasa rumit.
Sains kedokteran modern mulai membuktikan, bahwa melakukan puasa pada Bulan Ramadhan bukan sekadar ritual keagamaan belaka.
Melainkan salah satu sebuah metode intervensi biologis, yang mampu meregenerasi tubuh hingga ke level seluler.
Berikut adalah beberapa penjelasan medis, terkait transformasi yang terjadi pada tubuh Anda selama menjalankan ibadah puasa.
1. Fase Detoksifikasi: Efek "Autofagi" peraih Nobel
Keajaiban medis terbesar saat puasa terletak pada proses bernama Autofagi.
Istilah ini dipopulerkan oleh peneliti asal Jepang, Yoshinori Ohsumi (Pemenang Nobel Kedokteran 2016), ini merujuk pada mekanisme "pembersihan diri" sel.
Saat tubuh tidak menerima asupan makanan selama lebih dari 12 jam, maka sel-sel mulai mencari sumber energi cadangan.