POLA JABAR - Meminum teh herbal kini bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan sudah menjadi bagian dari rutinitas kesehatan bagi banyak orang. Berbeda dengan teh biasa yang berasal dari tanaman Camellia sinensis, teh herbal merupakan infus dari berbagai bagian tanaman obat, mulai dari daun, bunga, akar, hingga kulit kayu.
Melansir dari Healthline, teh herbal atau yang sering disebut "tisane" menyimpan segudang manfaat, mulai dari meredakan kecemasan hingga meningkatkan sistem imun. Namun, untuk mendapatkan manfaat maksimal, proses pengolahannya tidak boleh sembarangan. Salah teknik bisa membuat kandungan antioksidan dan minyak atsiri di dalamnya menguap sia-sia.
Langkah pertama dalam membuat teh herbal adalah memahami bagian mana dari tanaman yang paling kaya akan senyawa aktif. Tidak semua bagian tanaman memiliki fungsi yang sama.
Untuk tanaman seperti mint, basil, atau lemon balm, bagian daun adalah primadonanya. Sementara untuk tanaman seperti jahe, kunyit, atau temulawak, bagian rimpang (akar) adalah yang diincar. Jika Anda menggunakan bunga seperti chamomile atau rosella, pastikan bunga tersebut dipetik saat mekar sempurna untuk mendapatkan aroma dan kandungan kimiawi yang optimal.
Teknik Pengolahan: Infusi vs Dekoksi
Dalam dunia herbal, dikenal dua metode utama untuk mengekstrak khasiat tanaman ke dalam air:
1. Metode Infusi (Penyeduhan)
Metode ini paling cocok untuk bagian tanaman yang lunak seperti daun dan bunga. Caranya sangat mudah: masukkan bahan herbal ke dalam cangkir, siram dengan air panas (bukan air mendidih yang bergolak hebat), lalu tutup rapat. Menutup cangkir adalah kunci agar minyak esensial yang membawa aroma dan khasiat tidak hilang terbawa uap. Diamkan selama 5 hingga 10 menit sebelum disaring.
2. Metode Dekoksi (Perebusan)