POLA JABAR - Konsumsi garam, atau lebih spesifiknya natrium, yang melebihi batas anjuran merupakan salah satu faktor risiko diet paling signifikan yang berkontribusi pada beban penyakit global, terutama yang berkaitan dengan sistem kardiovaskular.
Masyarakat dunia, secara rata-rata, mengkonsumsi garam jauh melampaui batas aman, dan kelebihan asupan ini memiliki dampak langsung dan merusak pada pembuluh darah serta jantung. Mekanisme utamanya adalah melalui peningkatan tekanan darah, sebuah kondisi yang dikenal sebagai hipertensi.
Ketika natrium berlebih masuk ke dalam tubuh, ia menyebabkan tubuh menahan cairan lebih banyak (retensi cairan) untuk mengencerkan konsentrasi natrium yang tinggi.
Peningkatan volume darah yang beredar ini otomatis memberikan tekanan ekstra pada dinding pembuluh darah, yang secara konsisten menaikkan tekanan darah ke tingkat yang tidak sehat.
Dampak domino dari hipertensi yang dipicu oleh konsumsi garam berlebihan ini secara langsung menyerang kesehatan jantung. Tekanan darah tinggi memaksa jantung untuk bekerja jauh lebih keras dari seharusnya dalam memompa darah ke seluruh tubuh, yang seiring waktu dapat menyebabkan penebalan otot jantung (hipertrofi ventrikel).
Kondisi ini secara bertahap melemahkan fungsi jantung dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan stroke. Berdasarkan data dan penelitian dari World Health Organization (WHO), konsumsi garam berlebihan diperkirakan menyebabkan jutaan kematian setiap tahunnya di seluruh dunia akibat penyakit jantung dan stroke.
WHO secara tegas merekomendasikan batas maksimal asupan garam untuk orang dewasa tidak lebih dari 5 gram per hari setara dengan sekitar satu sendok teh untuk meminimalkan risiko kesehatan serius ini.
Mencapai batasan 5 gram garam per hari seringkali menjadi tantangan besar, mengingat mayoritas asupan garam berasal dari makanan olahan, makanan cepat saji, dan hidangan yang dimasak di luar rumah. Garam yang tersembunyi dalam roti, keju, daging olahan, dan makanan ringan secara kolektif menyebabkan konsumsi harian jauh melampaui batas aman WHO tanpa disadari.
Oleh karena itu, kesadaran dan upaya kolektif, baik dari sisi individu untuk mengurangi penggunaan garam saat memasak maupun dari sisi industri makanan untuk mengurangi kandungan natrium dalam produk olahan, sangat krusial.