POLA JABAR - Selama bertahun-tahun, garam (natrium klorida) telah dikenal sebagai faktor risiko utama dalam pengembangan hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Namun, penelitian ilmiah modern kini mulai menyingkap peran yang lebih rumit dan mengejutkan dari senyawa ini dalam mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, khususnya dalam konteks penyakit autoimun seperti Systemic Lupus Erythematosus (Lupus) dan Multiple Sclerosis (MS). 

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun, yang seharusnya melindungi tubuh dari ancaman luar, keliru menyerang jaringan tubuhnya sendiri. Fokus utama penelitian telah tertuju pada bagaimana asupan natrium klorida yang berlebihan dapat secara langsung mempengaruhi perilaku dan aktivasi jenis sel T tertentu yang dikenal sebagai T helper 17 (Th17), sel yang merupakan pemain kunci dalam patogenesis banyak kondisi autoimun.

Sel Th17 adalah subtipe limfosit T yang penting dalam melawan patogen ekstraseluler tertentu, tetapi aktivasi berlebihan atau disregulasinya seringkali menjadi biang keladi dalam peradangan autoimun kronis. 

Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa paparan konsentrasi natrium klorida yang tinggi, seperti yang terjadi pada individu dengan diet tinggi garam, secara signifikan dapat mendorong diferensiasi sel T naif menjadi sel Th17 yang lebih agresif. 

Mekanisme molekuler di balik fenomena ini melibatkan jalur sinyal tertentu, di mana garam bertindak sebagai semacam "sinyal bahaya" lingkungan yang meningkatkan ekspresi gen yang bertanggung jawab untuk produksi sitokin pro-inflamasi khas Th17, seperti interleukin-17 (IL-17). 

Peningkatan jumlah dan aktivitas sel Th17 yang diinduksi garam ini menciptakan lingkungan peradangan yang sangat mendukung terjadinya serangan autoimun terhadap berbagai organ dan jaringan tubuh, menjadikannya topik yang mendapat perhatian besar dalam jurnal-jurnal ilmiah seperti Nature Reviews Immunology.

Kaitan antara garam dan disregulasi imun ini memberikan petunjuk penting mengenai faktor lingkungan yang dapat memicu atau memperburuk penyakit autoimun pada individu yang secara genetik sudah rentan. 

Meskipun gen memainkan peran yang tidak dapat disangkal dalam penyakit seperti Lupus (yang menyebabkan peradangan luas pada kulit, sendi, dan organ) dan MS (yang menyerang selubung mielin di sistem saraf pusat), faktor gaya hidup dan lingkungan, termasuk pola makan, kini dianggap sebagai pemantik yang potensial. 

Asupan garam modern yang sangat tinggi, yang didominasi oleh makanan olahan, dapat secara konstan mendorong sel Th17 untuk tetap berada dalam keadaan yang sangat aktif dan patogenik.