POLA JABAR - Selama dekade terakhir, rokok elektrik atau vape kerap dipasarkan sebagai alternatif yang "lebih aman" dibandingkan rokok konvensional. Fokus diskusinya sering kali berputar pada kesehatan paru-paru dan jantung. Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam The BMJ (British Medical Journal) mulai mengalihkan perhatian dunia pada dampak yang lebih samar namun sama berbahayanya: kesehatan mental.

Bagi banyak orang, vaping dianggap sebagai pelarian singkat dari tekanan hidup. Namun, data ilmiah menunjukkan bahwa alih-alih meredakan stres, penggunaan vape justru berpotensi menciptakan lingkaran setan gangguan psikologis yang kompleks.

Paradoks Nikotin: Antara Relaksasi dan Kecemasan

Alasan utama seseorang merasa rileks saat menghisap vape adalah kandungan nikotin yang memicu pelepasan dopamin di otak. Ini memberikan sensasi "tenang" sesaat. Namun, The BMJ menggarisbawahi adanya paradoks nikotin. Ketika kadar nikotin dalam darah menurun, pengguna akan mengalami gejala putus zat (withdrawal) yang mencakup iritabilitas, kegelisahan, dan kesulitan berkonsentrasi.

Gejala putus zat ini sangat mirip dengan gejala kecemasan umum. Akibatnya, banyak pengguna vape yang salah mengira bahwa rasa cemas mereka adalah masalah mental alami, padahal itu adalah respons otak yang menagih asupan nikotin. Hal ini menciptakan ketergantungan yang justru memperburuk stabilitas emosional dalam jangka panjang.

Hubungan Signifikan dengan Depresi dan Stres

Studi dalam literatur medis menunjukkan korelasi yang kuat antara frekuensi vaping dengan peningkatan risiko depresi. Pengguna vape memiliki peluang lebih tinggi untuk didiagnosis menderita gangguan suasana hati dibandingkan mereka yang tidak pernah menyentuh rokok elektrik.

Zat kimia dalam cairan vape tidak hanya mempengaruhi sistem pernapasan, tetapi juga mengganggu keseimbangan neurotransmiter di otak yang mengatur suasana hati. Ketidakseimbangan ini, jika dibiarkan terus-menerus, dapat menurunkan kemampuan seseorang dalam mengelola stres harian secara sehat, sehingga memicu episode depresi yang lebih berat.

Kerentanan Remaja dan Perkembangan Otak