POLA JABAR - Nasi, sebagai makanan pokok bagi lebih dari setengah populasi dunia, terutama di Asia, berada di garis depan risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Dampak dari fenomena global ini terhadap produksi nasi tidak hanya bersifat sporadis, tetapi merupakan ancaman sistemik yang berpotensi memicu krisis pangan dan ketidakstabilan ekonomi di negara-negara produsen utama. 

Masalah utamanya terletak pada peningkatan suhu rata-rata global dan perubahan pola curah hujan yang ekstrem dan tidak terduga, dua faktor lingkungan yang sangat sensitif terhadap pertumbuhan tanaman padi. 

Sektor pertanian padi sangat bergantung pada kondisi iklim yang stabil kelebihan atau kekurangan air, serta lonjakan suhu di atas batas toleransi, dapat secara langsung menurunkan hasil panen dan kualitas biji-bijian yang dihasilkan.

Salah satu dampak paling merusak dari peningkatan suhu adalah pada tahap pembungaan dan pengisian bulir padi. 

Ketika suhu malam hari naik, tanaman padi menghabiskan lebih banyak energi yang seharusnya digunakan untuk memproduksi karbohidrat (starch) dan mengisinya ke dalam bulir, justru digunakan untuk respirasi. Akibatnya, biji padi menjadi tidak terisi penuh atau, dalam kasus yang parah, menjadi gabah yang hampa. 

Peningkatan suhu, terutama di atas 35 C selama periode kritis ini, dapat menyebabkan kemandulan serbuk sari dan mengurangi tingkat pembuahan secara drastis, yang otomatis mengurangi jumlah bulir yang matang per malai. Selain itu, kondisi iklim yang memanas juga memperluas jangkauan dan memperparah serangan hama dan penyakit padi, seperti wereng dan penyakit blas, yang berkembang biak lebih cepat dan lebih agresif dalam lingkungan yang hangat, memperburuk kerugian hasil panen yang sudah ada.

Di sisi lain, perubahan iklim juga memanifestasikan diri melalui anomali hidrologi, yaitu pola banjir dan kekeringan yang semakin sering terjadi dan semakin parah. Pertanian padi, terutama padi sawah, dikenal sebagai sistem yang sangat haus air, membutuhkan pasokan air yang konsisten. 

Namun, intensitas musim kemarau yang lebih panjang dan kering sebagaimana yang sering dilaporkan dalam laporan-laporan dari Reuters Environment membuat irigasi menjadi mustahil di banyak daerah tadah hujan, menyebabkan gagal panen total. Sebaliknya, musim hujan yang semakin singkat namun dengan curah hujan yang jauh lebih tinggi memicu banjir bandang yang merendam dan merusak tanaman padi yang sudah siap panen atau yang baru ditanam. 

Kerusakan infrastruktur irigasi akibat banjir ini juga menambah tantangan jangka panjang bagi petani, menciptakan siklus ketidakpastian yang mengancam ketahanan pangan di tingkat lokal maupun global.