POLA JABAR - Lautan, yang dulunya adalah tempat hening dengan suara-suara alam yang harmonis (seperti gemuruh ombak dan nyanyian paus), kini semakin bising akibat aktivitas manusia. Polusi suara bawah laut yang sebagian besar berasal dari lalu lintas kapal, pengeboran minyak dan gas, serta penggunaan sonar militer dan penelitian menghadirkan tantangan besar dan seringkali fatal bagi biota laut, termasuk penyu.
Penyu laut sangat bergantung pada pendengaran untuk melakukan berbagai fungsi penting dalam hidup mereka, mulai dari navigasi migrasi jarak jauh, mencari pasangan di musim kawin, hingga menghindari predator. Mereka memiliki rentang pendengaran terbaik pada frekuensi rendah, yaitu frekuensi yang sama persis dengan frekuensi dominan yang dihasilkan oleh baling-baling kapal besar dan seismic surveys (survei seismik).
Akibatnya, suara antropogenik ini secara efektif menutupi (masking) suara alami laut, membuat penyu kesulitan mendengar petunjuk penting dari lingkungan, seperti suara arus atau suara yang dihasilkan oleh lokasi bersarang potensial.
Gangguan ini dapat menyebabkan mereka tersesat, membuang energi berharga, dan gagal menemukan lokasi kawin atau bertelur yang ideal, yang secara langsung mengancam kelangsungan hidup populasi mereka.
Reaksi penyu terhadap polusi suara bervariasi tergantung pada intensitas dan durasi kebisingan tersebut, serta spesies penyu itu sendiri. Para peneliti Nature Marine Ecology mengamati bahwa respons pertama penyu terhadap suara keras yang tiba-tiba seperti ledakan sonar atau suara pile driving (pemancangan tiang) adalah perubahan perilaku akut.
Penyu dapat menunjukkan respons menghindar yang ekstrem, seperti berenang cepat menjauh dari sumber suara, atau sebaliknya, membeku di tempat. Meskipun respons menghindar terdengar sebagai mekanisme pertahanan yang baik, jika hal ini terjadi berulang kali, penyu dapat dipaksa untuk meninggalkan habitat penting mereka, termasuk area makan atau area istirahat yang vital.
Paparan suara yang sangat intens dan berlangsung lama juga dapat menyebabkan kerusakan fisik pada sistem pendengaran mereka, termasuk perubahan sementara atau permanen pada ambang pendengaran (dikenal sebagai Temporary Threshold Shift atau Permanent Threshold Shift).
Dalam skenario terburuk, kebisingan yang berlebihan dapat memicu respons stres fisiologis, meningkatkan hormon kortisol, dan pada akhirnya melemahkan sistem kekebalan tubuh penyu, menjadikannya lebih rentan terhadap penyakit.
Aspek krusial lain yang dipengaruhi polusi suara adalah proses reproduksi dan komunikasi awal kehidupan penyu. Induk penyu yang sedang bersarang di pantai seringkali berada di jalur migrasi atau penangkapan ikan. Ketika mereka berada di air, suara kapal yang bising dapat mengganggu proses komunikasi kimia dan akustik halus yang digunakan untuk menemukan pasangan.