POLA JABAR - Bagi manusia modern, melirik pergelangan tangan untuk melihat waktu adalah hal yang sangat lumrah. Namun, jika kita menengok beberapa abad ke belakang, konsep mengenakan jam di pergelangan tangan dianggap sebagai hal yang aneh, bahkan feminin bagi sebagian besar pria. 

Perjalanan jam dari sebuah benda besar yang disembunyikan di dalam saku rompi hingga menjadi perangkat canggih di tangan kita adalah cerminan dari perubahan sosial, kebutuhan militer, dan inovasi teknik yang luar biasa.

Awal Mula Jam Saku: Simbol Status Bangsawan

Sejarah jam tangan dimulai pada abad ke-16 di Eropa, khususnya di wilayah Jerman dan Italia. Penemuan pegas utama (mainspring) oleh Peter Henlein memungkinkan para pengrajin menciptakan alat penunjuk waktu yang cukup kecil untuk dibawa bepergian. Awalnya, jam ini berbentuk bulat menyerupai telur dan sering dipakai sebagai kalung atau hiasan pakaian.

Pada masa pemerintahan Raja Charles II dari Inggris pada abad ke-17, tren mode berubah. Pengenalan rompi (waistcoat) membuat pria mulai menyimpan jam mereka di dalam saku kecil. Inilah cikal bakal jam saku yang kita kenal sekarang. 

elama ratusan tahun, jam saku adalah standar emas bagi pria terhormat dan simbol status ekonomi tinggi. Memiliki jam saku berarti Anda adalah orang yang menghargai ketepatan waktu dan memiliki akses terhadap teknologi mutakhir.

Jam Tangan: Awalnya Hanya untuk Wanita

Menariknya, jam tangan pertama sebenarnya diciptakan jauh sebelum populer di kalangan pria. Pada tahun 1810, Abraham-Louis Breguet membuat jam tangan pertama untuk Ratu Napoli. 

Sepanjang abad ke-19, jam yang dikenakan di pergelangan tangan dianggap sebagai "perhiasan" bagi wanita dan bukan alat fungsional bagi pria. Pria menganggap jam tangan terlalu rapuh dan mudah rusak jika terpapar cuaca atau benturan saat bekerja dan berburu.