POLA JABAR - Kepercayaan terhadap roh, hantu, dan entitas supernatural merupakan benang merah yang kuat dalam warisan budaya Asia, dengan Jepang dan Indonesia menawarkan spektrum cerita yang kaya dan unik.
Di Jepang, sosok hantu yang paling dikenal adalah Yūrei (幽霊), yang secara harfiah berarti "roh redup" atau "roh yang tak terlihat." Yūrei hampir selalu digambarkan sebagai arwah orang mati yang terikat pada dunia nyata karena kematian yang tidak wajar, penderitaan yang ekstrem, atau tugas yang belum terselesaikan, sehingga mereka tidak dapat menemukan kedamaian dan memasuki alam baka.
Yūrei klasik sering muncul dalam balutan kimono putih pemakaman (shirōshōzoku), rambut panjang hitam acak-acakan menutupi wajah, dan tanpa kaki, menciptakan citra dingin dan melayang yang begitu ikonik dalam film horor global, seperti yang diwakili oleh Sadako (Ring) atau Kayako (Grudge). Fokus utama cerita Yūrei adalah balas dendam personal terhadap individu yang bertanggung jawab atas penderitaan mereka, menjadikannya cerita yang sarat dengan tragedi dan pengkhianatan emosional.
Sementara itu, di Indonesia, hantu wanita yang menjadi ikon horor adalah Kuntilanak atau Pontianak. Meskipun memiliki kemiripan visual dengan Yūrei sama-sama berambut panjang dan berbaju putih filosofi di baliknya seringkali berbeda, berakar lebih dalam pada mitos kehamilan dan kematian saat melahirkan.
Kuntilanak mewakili arwah wanita yang meninggal saat hamil atau melahirkan, menjadikannya simbol kesedihan yang mendalam dan dendam yang berkaitan dengan peran reproduksi dan ketidakadilan yang dialami wanita.
Meskipun Kuntilanak juga menuntut balas, kehadirannya seringkali lebih dikaitkan dengan gangguan di ruang publik atau tempat-tempat tertentu (pohon-pohon besar, rumah kosong) dan bukan selalu pengejaran individu tertentu seperti yang dominan dalam kisah Yūrei.
Selain itu, Indonesia juga memiliki spektrum entitas yang sangat luas yang dikategorikan sebagai 'setan' atau 'makhluk halus' (seperti Pocong, Tuyul, Genderuwo) yang seringkali terkait dengan praktik ilmu hitam (black magic), sebuah dimensi yang lebih jarang dieksplorasi dalam legenda Yūrei tradisional Jepang.
Perbedaan fundamental lainnya terletak pada kategorisasi makhluk supernatural. Budaya Jepang memiliki konsep yang jauh lebih luas dan terstruktur mengenai Yōkai (妖怪), yang merupakan istilah kolektif untuk semua monster, makhluk mitos, roh, dan iblis. Yōkai tidak harus selalu merupakan arwah manusia yang gentayangan (Yūrei adalah salah satu sub-kategori Yōkai); mereka bisa berupa makhluk aneh seperti Kappa (makhluk sungai mirip kura-kura) atau Tsukumogami (benda mati yang hidup setelah 100 tahun).
Konsep Yōkai ini menunjukkan bagaimana legenda horor Jepang seringkali berfungsi sebagai alat moral dan budaya untuk menjelaskan fenomena alam, menjaga kebersihan (seperti hantu toilet Hanako-san), atau mengajarkan rasa hormat terhadap benda-benda tua, sebuah perspektif yang dikaji mendalam oleh para peneliti folklor